Saat Paus Leo XIV terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia pada 8 Mei 2025, semua mata memandang dia. Ada harapan besar, bahwa Paus yang baru ini akan membawa perdamaian dan cinta kasih bagi seluruh dunia. Pasalnya, dunia saat ini butuh sosok pemimpin yang mampu mengorkestrasi perdamaian, bukan pemimpin yang menginisiasi perang yang mematikan
Rasul Petrus mengingatkan, bahwa kita sedang menantikan kedatangan Allah, di mana langit dan bumi yang lama akan binasa dan digantikan oleh langit dan bumi yang baru, tempat kebenaran dan keadilan berkuasa. Kita dipanggil untuk berusaha hidup tidak bercacat dan tak bernoda di hadapan Allah, serta hidup dalam kedamaian dengan Dia.
Dalam Injil, kita mendengar, orang-orang Farisi mencoba menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada Kaisar. Mereka ingin mengetahui, apakah Yesus mendukung atau menentang pemerintahan Romawi. Yesus dengan bijaksana menjawab, bahwa kita harus menyerahkan yang jadi milik kaisar kepada kaisar dan yang jadi milik Allah kepada Allah. Yesus menegaskan, bahwa milik Allah adalah seluruh diri kita, hidup, iman, dan perbuatan baik kita.
Yesus mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab sebagai warga negara, tapi juga untuk setia dan memberikan yang terbaik bagi Allah, yaitu diri sendiri. Artinya, membayar pajak adalah kewajiban, tapi memberikan diri sepenuhnya kepada Allah adalah tanggung jawab yang lebih besar. Jangan membiarkan diri ini terjebak dalam perselisihan politik atau duniawi yang mengalihkan perhatian kita dari Allah. Kita harus tetap fokus kepada Allah dan kehendak-Nya.
“Tuhan, bimbinglah kami agar tidak hanya menantikan kedatangan-Mu secara pasif, tapi juga proaktif berupaya hidup sesuai kehendak-Mu. Amin.”
Ziarah Batin
(adiutami.com / ziarahbatinkatolik.blogspot.com / Buku Ziarah Batin)

