Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Semakin tinggi pohon tumbuh ke langit, semakin dalam akarnya harus menancap ke bumi”
(Nietzsche)
Matafora Kaya Makna
Judul tulisan reflektif dan filosofis ini adalah sebuah metafora yang kaya makna, tua, dan universal. Saya pun teringat pada konsep “Imitation of Christ.”
Perumpamaan tentang Penabur Benih
Siapakah Penabur benih itu, dari manalah datangnya benih itu, dan di manakah benih-benih itu ditaburkan?
Ada seseorang yang menaburkan benih: benih itu ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu, di tengah semak berduri, dan ada juga yang jatuh di tanah yang baik.
(Lukas 8 : 4-15)
- I. Makna Filosofis: Eksistensi dan Proses Menjadi
Secara filosofis, sebatang pohon telah mengajarkan manusia tentang “hakikat eksistensi/keberadaan (being) dan proses menjadi (becoming).
A. Akar adalah Fondasi Identitas dan Kebenaran
- Filosofinya: sebatang pohon tidak dapat bertumbuh tinggi, jika akarnya dangkal. Akar itu mewakili identitas, nilai-nilai dasar, dan suatu kebenaran.
- Maknanya: manusia membutuhkan akar yang tertanam kuat, prinsip hidup, integritas, dan pemahaman diri yang jelas. Jika tanpa akar, maka manusia itu akan mudah tumbang.
B. Batang adalah Karakter dan Keteguhan
- Filosofinya: batang adalah struktur utama yang menopang. Ia tumbuh lambat, layer demi layer (Lingkar tahun).
- Maknanya: karakter manusia dibangun melalui waktu dan pengalaman. Setiap ‘lingkar tahun’ adalah suatu pelajaran hidup, trauma yang disembuhkan, atau kemenangan kecil. Sedangkan batang yang kokoh itu adalah simbol dari keteguhan hati (stoicism), dan konsistensi antara yang diyakini (akar) dan yang dilakukan (buah).
C. Cabang dan Daun adalah Eksistensi Diri dan Interaksi
- Filosofinya: cabang pohon yang menjulur ke segala arah dan dedaunan yang menyingkap cahaya.
- Maknanya: inilah cara manusia berinteraksi dengan dunia. Manusia membuka diri untuk menerima pengetahuan dan memberi naungan bagi orang lain. Tapi ada cabang yang harus dipangkas (pruning), agar tidak terlalu rimbun.
D. Buah adalah Tujuan Akhir (Teleologi)
- Filosofinya: tujuan akhir dari sebatang pohon bukanlah sekadar bertumbuh besar, tapi justru menghasilkan buah.
- Maknanya: dalam etika Aristotelian, hal ini disebut ‘Eudaimonia’ atau aktualisasi diri. Seorang manusia baru dikatakan ‘sukses’ secara filosofi bukan ketika ia meniadi orang kaya atau terkenal, melainkan justru ketika hidupnya menghasilkan ‘buah’ kasih, karya, dan kebaikan bagi sesama. Perlu diingat, bahwa ‘pohon itu tidak pernah memakan buahnya sendiri.’
- II. Makna Spiritual: Pertumbuhan Rohani dan Anugerah
Secara spiritual pohon adalah gambaran hidup tentang relasi erat antara manusia dengan Tuhan (Sang Pencipta).
A. Ketergantungan Total pada Sumber Hidup
- Spiritualitasnya: pohon tidak tumbuh karena dirinya sendiri. Ia sangat membutuhkan wadah: tanah, air, dan pancaran sinar matahari.
- Maknanya: pohon telah mengajarkan tentang kerendahan hati dan ketergantungan pada Allah. Maka, manusia butuh Roh Tuhan demi pertumbuhan rohaninya.
B. Proses Pemangkasan (Pruning) sebagai Kasih
- Spiritualitasnya: petani akan memangkas cabang-cabang yang sakit atau tidak berbuah.
- Maknanya: penderitaan, kehilangan, atau disiplin rohani sering kali terasa seperti ‘pemangkasan’ yang sakit. Tapi dalam spiritualitas Kristiani, hal itu justru sebagai tanda kasih Tuhan.
C. Ketahanan dalam Badai (Iman yang Diuji)
- Spiritualitasnya: sebatang pohon yang tumbuh di tempat yang berangin keras akan memiliki teras kayu yang lebih keras dan akar yang lebih dalam daripada pohon yang bertumbuh dalam rumah kaca.
- Maknanya: sebuah cobaan hidup itu bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai sarana penguatan iman.
D. Naungan dan Keramahtamaan Ilahi
- Spiritualitasnya: sebatang pohon yang rimbun akan membagikan naungan bagi burung, hewan, dan manusia yang lelah.
- Maknanya: pribadinya yang matang spiritual akan jadi tempat berlindung bagi sesama yang lain. Kehadirannya, justru akan membawa damai sejahtera di mana pun dia berada. Bahkan dia tidak banyak menuntut, malah ia akan memberi kasih. Itulah kasih agape.
Akhirnya …
- Marilah, kita bertumbuh bersama di dalam iman dan pengharapan sejati.
- Karena sejatinya tidak pernah ada pohon yang akan memakan buahnya sendiri.
- Jadilah, sebagai sebatang pohon yang merindang dan berbuah lebat!
Kediri, 30 Mei 2026

