Ada seorang Imam lanjut usia meninggal dunia beberapa waktu lalu pada usia yang ke-100, di Pastoran Paroki tempat ia berkarya selama 45 tahun terakhir. Ia adalah seorang Imam yang istimewa, sehingga dipercayakan bekerja di Paroki itu dalam waktu yang lama hingga akhir hidupnya. Banyak sekali kisah menarik dan terukir di dalam hati setiap umat paroki.
Ada seorang umat Paroki membagikan ceritanya, begini: Di keluarganya, ada 5 tingkat keturunan yang diberkati pernikahannya oleh sang Pastor. Sakramen lain seperti Pembaptisan anak, Komuni Pertama, Sakramen Penguatan dan Pernikahan juga dilayani oleh sang Pastor. Cerita satu keluarga ini juga sama dengan banyak keluarga lain di Paroki itu. Dari tangannya, keluarga-keluarga itu mendapat curahan rahmat dari Tuhan. Dari mulutnya, mereka mendengar dan menerima Firman Tuhan yang menerangi kehidupan. Dari hatinya, umat Paroki mendapat segala rasa dicintai dan dihargai sebagai orang-orang hidup dalam semangat damai sejahtera. Singkatnya, (alm) Pastor ini adalah seorang pembagi rahmat Tuhan seperti Yesus Kristus.
Sang Pastor wafat dan pergi ke alam baka dengan meninggalkan kemasyurannya, khususnya namanya yang harum dan jasa-jasanya yang sangat baik.
Surat Pertama Santo Petrus tentang kasih dibagikan dengan tulus dan bebas adalah kasih yang menutupi banyak sekali dosa. Kasih itu tidak menuntut apa-apa selain keharusan untuk berbagi rahmat Allah kepada sesama.
Dalam Injil, kita didorong untuk berbagi rahmat kepada sesama dan khususnya adalah rahmat pengampunan dosa. Karena tidak seorang pun luput dari berbuat salah. Kesalahan besar dan kecil itu telah membawa akibat negatif pada kita. Meski kita yang jadi korban atau dirugikan itu tidak pernah kehabisan rahmat Allah. Tuhan senantiasa mengaruniakan rahmat-Nya kepada kita melalui aneka jenis aktivitas dan pengalaman rohani setiap hari.
Jadi sangat tidak sulit bagi kita untuk berbagi rahmat pengampunan kepada mereka yang bersalah kepada kita. Kiranya kita tidak menunda-nunda kesempatan untuk mengampuni sesama yang bersalah. Tuhan Yesus menasihatkan kita, bahwa “Jika kalian berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapa-mu yang di Surga mangampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Jangan pernah lupa untuk mengampuni sebagai akibat terlalu sering dan lama menunda untuk melakukannya. Jika tidak, dosa bisa membeku dan berkarat di dalam dirimu.
“Ya, Allah yang Maha Murah, semoga kami sungguh menjadi para pembagi rahmat-Mu secara benar melalui semangat untuk selalu mengampuni sesama kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

