Hari ini hatiku tertuju pada sebuah kalimat yang mendalam: “Kita pasti akan kembali lagi kepada-Nya.”
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata. Melainkan adalah cermin dari sebuah kesadaran spiritual yang amat tinggi. Sebuah pengingat dari seorang Lelaki yang hidup-Nya sepenuhnya terarah pada tujuan akhir yang kekal.
Saat merenungkannya, aku menyadari beberapa hal:
Lelaki ini menjadikan kematian sebagai jangkar, agar hati kita tidak mudah terlena dan tersesat oleh riuh rendahnya dunia yang sementara.
Ucapan-Nya adalah wujud kepasrahan total. Sebuah pengakuan, bahwa kita semua adalah milik Allah, dan pulang ke pangkuan-Nya adalah kepastian yang mutlak.
Ia sama sekali tidak takut pada maut. Hidup-Nya adalah teladan tentang bagaimana mempersiapkan kepulangan yang indah, suci, dan penuh kedamaian (husnul khatimah).
Lelaki sesempurna itu, yang perkataan dan hidup-Nya begitu selaras, nyata hadir dalam pribadi Yesus.
Tepat pada hari ini, saat kita mengenang Kenaikan-Nya ke Surga, kalimat itu berdengung lebih keras di telingaku. Kenaikan-Nya adalah bukti nyata, bahwa Ia telah pulang lebih dulu, kembali ke rumah Bapa, untuk membukakan jalan bagi kita semua yang juga akan kembali kepada-Nya.
Catatan untuk jiwaku hari ini: “Sudahkah aku hidup dengan kesadaran akan kepulangan itu?”
Jlitheng

