Dunia mungkin menuntut segalanya, tapi di titik ini, raga memilih berserah. Setelah ‘Via Dolorosa’ dan laku seduluran yang panjang, saya menemukan ‘Padang Gurun’. Bukan sebagai tempat kehilangan, melainkan ruang suci untuk lahir baru.
Oleh rapuhnya jantung dan dampak stroke, saya belajar, bahwa retaknya raga itu justru jadi jalan masuk bagi cahaya-Nya. Tubuh yang ringkih ini adalah pengingat teduh, bahwa jati diri sejati tidak pernah lekang oleh rasa sakit.
“Tubuhku memang kurus, tapi hatiku tetap bahagia selama aku bersama-Mu.”
“Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Maz 23: 3-4).
Berkah Dalem.
Jlitheng

