Maksud tersirat dalam kalimat ini ialah kita diciptakan oleh Tuhan Allah, melalui perkawinan orangtua. Kita dilahirkan Ibu masing-masing, adalah suatu kejadian dalam cinta dan untuk mencintai. Kehidupan itu ada ialah karena cinta.
Sumber atau pokok yang membuahkan kita adalah cinta itu sendiri, seperti dalam Surat Pertama Rasul Yohanes 4: 8, bahwa Allah adalah kasih, “Deus caritas est.”
Buah-buah dari hidup iman kita adalah cinta itu sendiri. Ini dapat terjadi, karena kita selalu terhubung dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai pokok anggur, dan kita semua adalah ranting-rantingnya.
Hubungan cinta ini ditandai oleh perbuatan cinta terbesar Yesus Kristus, yaitu mengorbankan diri-Nya, atau mati dengan sangat keji, demi kebaikan dan keselamatan kita semua. Cinta terbesar inilah yang diwariskan kepada kita agar masing-masing dari kita dapat berkorban diri demi kebaikan dan keselamatan sesama yang membutuhkan tindakan cinta kasih.
Jadi kita hidup “dalam cinta dan untuk cinta” yang bersumberkan pada persatuan dengan Yesus Kristus sebagai pokok kehidupan. Paling kurang ada empat poin untuk menjelaskan kebenaran ini:
- Pertama: Tuhan telah menyirami cinta-Nya ke dalam hati kita. Hal ini terjadi pertama kali saat pembaptisan, dan selanjutnya melalui siraman firman-Nya, sentuhan berkat-Nya, dan pelukan kasih-Nya yang kita terima setiap hari. Gereja Perdana di Antiokhia sungguh dipenuhi oleh cinta kasih Tuhan melalui firman dan ajaran untuk diikuti oleh seluruh Gereja.
- Kedua: Yesus memperlakukan kita sebagai sahabat, dan bukan sebagai hamba. Dalam hubungan sebagai sahabat ini, Ia akan selalu mengajarkan dan memberikan kita contoh, bagaimana mengasihi sedemikian total seperti yang telah dilakukan-Nya.
- Ketiga: Komitmen cinta ialah sampai mati. Sekecil atau sesederhana apa pun cinta itu, isinya ialah berkorban dan kalau berkorban berarti orang harus mengalami kematian dari dirinya baik sebagian maupun seluruh dirinya.
Kalau kita mantap untuk mati dalam perbuatan-perbuatan cinta yang sederhana, kita akan sangat siap untuk mati dalam cinta yang lebih besar.
- Keempat: Cinta itu dalam perwujudannya, menghasilkan buah. Misalnya saya gembira menyambut dengan senyum dan menyalami tamu yang datang, buahnya ialah, tamu itu betah dan jadi sahabatku. Sedang cinta yang tidak menghasilkan buah yang baik itu adalah kebohongan, kepalsuan dan pengkhianatan.
“Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana Engkau telah mengajarkan dan memberikan kami contoh untuk mencintai dengan benar, kuatkan kami selalu untuk tetap berada di dalam cinta-Mu. Semoga kami selalu mencintai sesama tanpa bosan dan lelah. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

