Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Verum Sacrificium est Paenitentia, non Hostia”
“Kurban Sejati adalah Pertobatan, bukan Sesajen”
Dalam konteks ini, Nabi Daud sungguh sadar, bahwa Tuhan tidak berkenan pada kurban hewan (sesajen), jika hati si pemberi masih keras dan penuh dosa.
(Mazmur 51:19)
Tulisan ini diturunkan, karena hati saya tergerak oleh tulisan Athiful Khoirul, Sleman, DIY dalam kolom Opini ‘Surat kepada Redaksi’ Kompas, Senin, (8/6/2026), berjudul “Kurban Elite.”
Adapun tulisan Athiful Khoirul ini diturunkannya sebagai sebentuk apresiasi beliau terhadap Opini Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, berjudul “Idul Adha, Keteladanan, dan Pengorbanan Elite.” (Kompas, 26/5/2026) dalam konteks hari Raya Kurban.
Beliau berpendapat, bahwa tulisan Bahlil Lahadalia ini patut diapresiasi, karena berani menarik makna kurban dari wilayah ritual menuju arena kekuasaan.
Bahwa kurban itu tidak lagi berhenti pada penyembelihan hewan, pembagian daging, atau kesalehan seremonial, tapi kritik terhadap ego, keserakahan, dan watak elitis yang sering bersembunyi di balik bahasa pengabdian.
Selanjutnya ditulisnya, bahwa bangsa kita ini tidak kekurangan pidato tentang pengorbanan. Yang sering kurang adalah kesediaan elite untuk benar-benar kehilangan sesuatu: kenyamanan jabatan, privilese, akses rente, dan kebiasaan mengutamakan kelompok sendiri, demikian Khoiri.
Bagi Khoiri, makna dasar Idul Adha janganlah direduksi jadi sekadar bahasa simbolik yang hanya sesaat. Untuk itu, janganlah kita kehilangan fokus, bahwa Nabi Ibrahim dan Putra yang dikorbankannya justru mengajarkan kita sikap keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling erat dipeluk dan dicintai. Semisal, pengaruh, kendali, fasilitas, serta rasa kenal kritik.
Khoiri juga berpendapat, bahwa opini sang Menteri ini justru akan sangat mencerahkan, jika kita rela menjadikannya sebagai sekeping cermin hidup. Lewat pantulan cahaya cermin itu, kita akan mengkonkretkannya lewat sikap disiplin kebijakan.
Alangkah arifnya, jika kurban dari para elite negara itu bukan sekadar memberi, melainkan berani membatasi diri. Berani melepaskan ego elite untuk dapat merasa senasib dengan rakyat banyak.
Tanpa keberanian itu, beliau berpendapat, bahwa ‘kurban itu hanya sebagai simbol yang jinak: menyentuh emosi rakyat sesaat, tapi tidak mampu mengubah ketimpangan,’ demikian beliau mengakhiri opininya.
Konklusi
Apakah maknanya, jika sebuah pengorbanan yang dipertontonkan itu justru hanyalah sekadar sebuah ritual klasik belaka, yang ibaratnya jauh panggang dari api?
“Bukankah yang Tuhan inginkan ialah sekeping hati yang remuk redam dan hancur?”
Kediri, 9 Juni 2026

