“Banyak orang menyepelekan dan merendahkan kita atas izin kita karena kita sendiri meragukan potensi yang Tuhan anugerakan kepada diri.”
Yesus berbicara tentang potensi yang Allah anugerakan kepada setiap orang; bukan hanya setiap manusia itu unik, melainkan ia dilengkapi dengan talenta yang tidak dimiliki persis sama dengan talenta orang lain. Ia berkata, “Kamu adalah garam, yang memberikan rasa pada makanan dan terang yang menerangi kegelapan hidup dan hati orang lain.” Bila garam itu tidak digunakan garam itu tak berguna sama seperti dilarutkan, sehingga kehilangan rasa asinnya. Jika terang/pelita itu ditempatkan di bawah gantang, ia tidak bisa menerangi ke sekitaran. Artinya, garam harus dipakai dalam masakan, juga pelita itu harus ditempatkan di atas kaki dian agar bisa menerangi ke sekitaran.
Pelajaran penting bagi kita adalah:
- 1) Yesus sangat tahu diri dan talenta kita. Ia juga percaya, ketika memilih kita jadi seperti apa adanya kita sekarang ini; baik sebagai suami, istri, orangtua, anak-anak, Dosen, Dokter, Suster, atau Pastor. Jika demikian, kita harus percaya, bahwa kita pasti bisa dan mampu.
- 2) Kembangkan setiap talenta pada diri ini dan berkaryalah bagi sesama. Asalkan bukan demi pamer diri dan kekayaan, melainkan sebagai dorongan untuk membantu orang lain yang memerlukan bantuan kita.
- 3) Ingat, bahwa banyak saudara di sekitar yang menantikan garam dari kita untuk memberi rasa bagi masakan mereka, dan pelita untuk menerangi kegelapan hidup dan diri mereka.
Ingatlah kata-kata bijak ini, “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita jadi sebatang lilin yang rela menghabiskan dirinya demi menerangi kegelapan.”
Yakinlah, bahwa siapa kita ini yang pasti adalah garam dan terang Kristus bagi dunia. Mungkin bagi dunia kita adalah ketiadaan, tapi bagi satu keluarga, bagi seseorang, engkau adalah dunianya.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

