Petrus menyaksikan, Roh Kudus dicurahkan atas Kornelius dan seisi rumahnya yang non-Yahudi itu memberikan kesaksian yang sangat kuat, yaitu Allah tidak membeda-bedakan. Ia tidak menuntut syarat-syarat rumit untuk diselamatkan. Sebaliknya, Allah menawarkan kasih karunia yang membebaskan dan mengubah. Bahkan Petrus bertanya dengan jujur dan penuh hikmat, “Mengapa kamu mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh Nenek moyang maupun oleh kita sendiri?”
Pesannya jelas, yaitu jangan membebani orang yang baru percaya itu dengan aturan-aturan berat, bahkan generasi sebelumnya pun gagal menanggungnya.
Dalam Injil, Yesus berkata, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu. Tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Hal ini bukan sekadar ajakan untuk mematuhi perintah, melainkan undangan untuk hidup dalam relasi kasih. Bila kita tinggal dalam kasih Allah, ketaatan bukan lagi kewajiban berat, melainkan jadi ungkapan cinta. Dari cinta itu, lahir sukacita sejati – bukan sukacita yang rapuh karena keadaan, melainkan sukacita yang teguh karena bersumber dari hubungan kita dengan Yesus.
“Ya, Tuhan, penuhilah kami dengan kasih dan sukacita-Mu serta jadikan hidup kami cerminan kasih-Mu di tengah dunia ini. Amin.”
Ziarah Batin

