Untuk Ibu dan Saudari Kita-2:
Menyibak Wajah Emansipasi
1.
Terbang dalam gulita
seperti bayang
tetapi…
Itu bukan kunang-kunang
Itu sebuah benda asing
Mungkin itu galau tanya
Mungkin itu rindu damba
Mungkin itu hanya suara
dalam sejarah kelana manusia
Mungkin itu dinamika warna-warni budaya
2.
Terapung di tengah samudera
tanpa bercahaya lalu sirna
Apakah itu hanya fatamorgana
Mungkin itu tarian lumba-lumba
Mungkin itu hanya gelombang berbusa
Mungkin juga hanya menggoda mata
karena wajah zaman terus menjelma
3.
Emansipasi itu datang dalam gelap
Ketika perempuan harkatnya terbelenggu gulita kebodohan
Saat martabatnya tertutup aneka penindasan
Entah oleh apa dan siapa
karena semua terjadi dalam peradaban dunia gulita
Yang dikuasai selera, kata dan angka
4.
Emansipasi itu
terdengar sakral dan mulia
bagi damba harkat martabat wanita
Mereka Ibuku dan Ibumu
Mereka saudari kita semua
Mereka rahim dan air susu manusia
Apakah hanya kata tanpa makna
Ataukah kreasi bersemi sandiwara sejarah manusia?
5.
Emansipasi terus bayangan tanya
Ada gulita dalam cerita faktanya
Ada jarak berbeda dengan kenyataannya
Adakah cahaya setelah gulita
Apakah salah mereka terlahir wanita
Apakah memang ini takdir semesta
Dan…
mari bertanya pada jiwa raga
Kita semua terlahir dari siapa?

