1.
Sesama itu Serigala-kah?
Cerita Kakek moyang dahulu kala
kita adalah generasi pewaris cahaya
Mentari dalam jiwa sanubari
Bulan purnama di hati nurani
Seluruh raga bintang-bintang kilau berseri
Kita adalah pribadi titisan Ilahi
Hadirnya jiwa raga karena cinta kasih sejati
Mengapa sejarah mencatat iri dendam dengki
Mengapa perang terus berkobar tanpa henti?
Alam semesta mengajarkan makna
kita manusia adalah sesama saudara
Bukan karena terlahir dari satu rahim wanita
Tetapi…
kita memiliki darah manusia yang sama
Kita menghirup satu udara semesta
Kita terlahir untuk membagi cinta harmoni
Kita tercipta agar memberi kasih dan damai
Mengapa sekarang berkobar bara permusuhan
Mengapa terus menyala keganasan seperti serigala
Ada yang menyebut ini kesalahan sejarah
Ada yang persalahkan adat budaya
Ada yang menuding pengaruh agama
Ada yang menyebut karena kejahatan dan kerakusan bisnis
Ada lagi yang meramal ini adalah “zaman edan”
Maka…
manusia akan semakin gila pikirannya
karena buta nurani dan mati jiwa
Kita semakin ingat diri karena menuruti selera dan gengsi diri
Entah mana yang jadi akar persoalan hidup
Mungkin saja kita lupa hakikat diri sejati
Mungkin juga karena tak tahu terima kasih
Atau mengingkari kuasa Sang Ilahi
2.
Ke manakah Kita Pergi
Waktu berubah pasti tanpa henti
Ruang bersemi dalam dinamika penuh energi
Tak peduli pilihan insani
Tak gubris keputusan diri pribadi
Aku, engkau
Kita semua terus galau
dalam energi inkarnasi misteri
Entah jadi apa dan siapa
Ke manakah harus melangkah berkelana
Di manakah harus pergi mencari
Sampai kapankah galau bertanya
Dan
masih banyak deretan rindu damba
yang selalu menggugat jiwa raga
Sedangkan kebutuhan terus meminta
agar bisa dipenuhi oleh kita
dalam peluang dan kemampuan nyata
Ada jawaban dari petuah leluhur
untuk pikiran waras dan sadar
di tengah kilau zaman pesona berbinar
“Jika ingin kuasai dunia dan sesama
Masuklah ke dalam diri pribadi
dan kenalah siapa diri sendiri
Sadarilah makna hakikat sejati
harkat martabat pribadi di hadapan Sang Ilahi”

