Tetapi Aku berkata kepadamu: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5: 44).
Kata-kata Yesus terdengar indah, tapi sangat sulit dijalani, apalagi di zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang penuh komentar pedas, ujaran kebencian di media sosial, persaingan tidak sehat, dan luka akibat dikhianati orang terdekat. “Musuh” hari ini mungkin bukan orang yang mengangkat senjata, melainkan mereka yang menyakiti kita melalui kata-kata, sikap, atau keputusan.
Yesus tidak meminta kita berpura-pura, bahwa luka itu tidak ada. Ia tahu, bahwa mengasihi musuh itu berat. Ia mengajak kita ke luar dari lingkaran balas dendam. Ketika kita membalas kebencian dengan kebencian, luka itu hanya bertambah. Ketika kita memilih mendoakan orang yang menyakiti, hati kita sendiri mulai disembuhkan.
Mengasihi musuh itu bukan berarti membenarkan kejahatan. Mengasihi berarti menolak jadi sama jahatnya. Di tengah budaya ‘cancel’, hinaan, dan saling serang, murid Kristus dipanggil untuk jadi tanda yang berbeda: membawa terang, bukan api.
Fr. Clement Maria, CSE
Selasa, 16 Juni 2026
1 Raj 21: 17-29 Mzm 51: 3-6.11.16 Mat 5: 43-48
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

