Di Kota Listra, Paulus menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahir. Melihat peristiwa itu, orang banyak terkesima. Mereka menyebut Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes.
Kekaguman yang teramat besar itu membuat mereka hendak mempersembahkan kurban kepada Barnabas dan Paulus. Tapi Paulus tidak silau oleh pujian. Ia tahu, bahwa kuasa itu bukan berasal dari dirinya, melainkan dari Allah. Mereka hanya alat di tangan Tuhan. Dengan tegas ia berkata, “Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami di sini untuk memberitakan Injil, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia dan berbalik kepada Allah yang hidup, dan telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.”
Pujian dan pengakuan itu bisa juga terjadi dalam hidup kita atas keberhasilan, prestasi, atau kebaikan kita. Dalam situasi seperti itu, apakah kita mampu berkata, “Semua ini karena Tuhan?” Atau kita diam-diam menikmati pujian itu?
Dalam Injil, Yesus memberikan kepada kita tolok ukur yang jelas, “Siapa yang memegang perintah-perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” Mengasihi Tuhan bukan soal emosi sesaat, melainkan ketaatan yang lahir dari kerendahan hati. Ketika kita bisa memberi tanpa pamrih, bekerja tanpa perlu diakui, dan tetap rendah hati di tengah keberhasilan, saat itulah kasih sejati dinyatakan. Sebab siapa yang merendahkan diri, dia akan ditinggikan oleh-Nya.
“Ya, Tuhan, jauhkan kami dari keinginan untuk diagungkan. Bentuklah hati kami agar dalam setiap keberhasilan, hanya Engkaulah yang dimuliakan. Amin.”
Ziarah Batin

