“Mungkin karena keprihatinan atau cinta yang terlalu besar, sehingga sering kita terlalu sibuk menata hidup dan diri orang lain daripada memperbaiki hidup dan diri sendiri yang telah rusak.”
Entah, karena prihatin atau mengeluh, Petrus bertanya tentang nasib Yohanes kepada Yesus, maka Ia menjawabnya, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tapi engkau: ikutlah Aku.”
Pelajaran penting bagi kita adalah:
1) Perbaiki hidup dan tatalah kata-katamu lebih dahulu sebelum kau berani menata dan memperbaiki hidup orang lain;
2) Keprihatinan akan nasib orang lain itu adalah bagus, tapi kecenderungan untuk mengatur hidup mereka itu perlu dibatasi, sehingga orang lain tidak merasa direbut kebebasannya;
3) Jalan terbaik untuk mengubah hidup dan diri orang lain adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap mereka, serta memberi contoh daripada mengumbar banyak kata yang tidak bermakna.
Akhirnya sadarlah, bila urusan tentang diri dan hidupmu belum selesai, maka jangan memulai mengurusi diri dan hidup orang lain, karena keduanya akan terbengkalai.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

