Di tengah dunia yang terus berlomba, di mana identitas sering ditentukan oleh apa yang kita miliki atau capai, mudah sekali bagi kita untuk melupakan jati diri sejati kita. Rasul Petrus mengingatkan kita tentang siapa diri kita sebenarnya, bukan berdasarkan kata orang, melainkan berdasarkan kata Allah: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri…” Sekalipun mungkin kita bukan siapa-siapa menurut dunia, tapi di mata Allah kita sangat berharga.
Jadi umat pilihan Allah itu tidak berarti jalan yang kita lalui akan selalu mudah. Tapi sebaliknya, panggilan sebagai milik Allah membawa kita ke jalur yang menantang. Kita tetap bisa merasa gelisah, bingung, bahkan takut. Tapi Yesus, dalam kelembutan-Nya, menenangkan para murid bukan dengan janji akan kenyamanan, melainkan dengan kehadiran-Nya: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Kata-kata ini adalah undangan untuk memercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya. Iman bukan berarti mengetahui semua jawaban, melainkan berani melangkah bersama Dia yang tidak pernah meninggalkan kita. Kita berani melangkah dalam ketidakpastian sebab dalam Yesus Kristus selalu ada kepastian. Ia senantiasa setia menuntun dan menopang kita menuju rumah Bapa.
“Ya, Tuhan, biarlah kami hidup seturut identitas kami sebagai umat-Mu, dan percaya bahwa Engkaulah jalan, kebenaran, dan hidup. Amin.”
Ziarah Batin

