Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Humanizatio Hominis”
Proses ‘Pemanusiaan Manusia’
(Akar Pendidikan)
Akar Sejati Pendidikan
Akar (radiks) sejati dari pendidikan adalah “Proses pemanusiaan manusia!” Bukan sekadar demi meraih selembar kertas ijazah, angka-angka, nilai, atau pun kerja, tidak! Semua ini hanyalah buahnya.
A. Filosofi dari Pendidikan Sejati: adalah…
Membebaskan dan bukan Menjinakkan!
Mari sejenak, kita mengenang Ki Hajar Dewantara lewat adagium agungnya, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani.”
Sentralnya, bahwa lewat proses pendidikan yang menuntun kodrat anak manusia, agar anak dapat merdeka secara lahir-batin.
Juga, jika kita masih ingat akan prinsip agung dari Paulo Freire, ‘Pedagogy of the Oppressed’, bahwa pendidikan sejati itu adalah suatu ‘praksis pembebasan’. Lawannya adalah ‘pendidikan gaya bank’, yakni seorang Guru hanya setor ilmu dan murid disuruh untuk menghafal dan menerimanya dalam diam. Melalui cara bisu ini, apakah hasil yang akan diperoleh? Ya, anak bisa membaca, tapi ia tidak mampu untuk berpikir kritis.
B. Akar Pendidikan yang Membebaskan
Agar pendidikan kita dapat menghasilkan ‘out put’ sejati dan bukanlah bandit, maka pendidikan itu harus memiliki 3 (tiga) buah akar utama.
- 1. Akar Nalar – Sadar
Tujuannya agar anak dapat berpikir jernih. Setidaknya, ia tahu membedakan, antara fakta versus opini, dan sebab versus akibat.
- 2. Akar Nurani – Peduli
Inilah bagian terpenting dari ‘rasa dan nilai’: empati, keadilan, dan tanggung jawab. Bahwa pendidikan sejati itu bersifat mengasah kemampuan untuk turut merasakan beban penderitaan sesama. Seperti yang juga ditegaskan oleh filsuf Socrates, “Hidup yang tidak teruji, tidak layak untuk dijalani.”
- 3. Akar Karya – Berdaya
Ilmu tanpa tindakan, pada hakikatnya adalah omong kosong. Mengapa? Ya, karena bukankah pendidikan sejati itu justru mendorong anak untuk mampu menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan.
Pendidikan yang Membebaskan itu justru Mengajarkan tentang Dua hal:
(1) “Kecakapan / keterampilan hidup”
(2) “Kearifan untuk memiliki hidup yang benar.”
Jadi, ada pun akar dari proses pendidikan sejati adalah manusia yang memiliki kesadaran: (sadar diri, sadar akan eksistensi sesama, dan sadar akan semesta raya ini).
Refleksi
“Non scholae, sed vitae discimus.”
“Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup.”
(Seneca)
“Vivere tota vita discendum est.”
“Dalam kehidupan perlu belajar seumur hidup.”
(Seneca)
Kediri, 3 Mei 2026

