“Rumah orangtua itu berarti rumah anaknya juga. Tapi rumah anak itu tidak identik rumah orangtuanya.” -Mas Redjo
Realita dan alasannya sederhana. Anak menikah, karena pihak ketiga, dan mungkin juga telah dikaruniai putera.
Semula saya tidak sependapat dengan Ibu, ketika Ibu memutuskan tinggal bersama Mas, ketimbang dengan Mbak yang lain atau saya. Padahal ekonomi kami lebih mapan dari Mas.
Alasan Ibu sederhana, tapi mampu mengguncang dan mengharu biru hati ini.
Ibu tidak mau pindah rumah atau ke kota, karena merasa nyaman, dekat, dan akrab dengan tetangga. Ibu tidak bisa diam, karena biasa bekerja agar tubuh ini sehat. Pindah rumah berarti harus beradaptasi lagi. Berbeda, jika sesekali mengunjungi anak-anaknya yang berada di kota lain untuk melepas rindu.
Sejatinya Ibu mempunyai visi dan misi dalam mendampingi Mas yang dianggap bagai anak hilang, karena krisis iman. Mas menjauhi Tuhan dan tidak ke Gereja lagi.
Dari Ibu, saya memahami makna kasih sejati seorang Ibu pada anak-anaknya. Di sisa umurnya, Ibu ingin melihat Mas kembali pada Tuhan. Pendampingan itu tidak dengan berjuta kata atau nasihat, tapi lewat aksi nyata dalam keheningan dan kesabaran yang tiada batas.
Ibu selalu mengajak Mas sowan Gusti ke Gereja. Minta diantar dan ditemani Mas, meski ditolak, dan bahkan sering pergi sendirian, tidak terkecuali, ketika hari hujan.
“Selalu berpikir sederhana. Konflik itu muncul, karena minta dingertiin, diperhatikan, dipuji, dan diapresiasi oleh orang lain. Kita diribeti pikiran sendiri. Padahal untuk memahami diri sendiri itu kita harus terlebih dulu memahami orang lain, Le,” nasihat bijak Ibu menggentarkan jiwa ini, ketika setiap kali muncul konflik dan pikiran saya jadi suntuk. Ibu ingin agar kami jadi pribadi yang tabah, sabar, dan rendah hati.
Dengan semangat kerendahan hati pula, Ibu mengajari kami, bahwa doa ikhlas itu tidak untuk meminta, apalagi memaksa. Karena Allah selalu memberi kita yang terbaik agar hidup ini berhikmat.
Terpujilah Allah!
Mas Redjo

