“Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai (Mat 6: 25a).
Seorang pemudi tinggal di kota besar. Setiap pagi, ia membuka ponselnya dan langsung diserbu notifikasiemail pekerjaan, berita ekonomi, iklan belanja online, bahkan reminder tagihan. Lambat laun, kekhawatiran mulai menguasai hatinya:Bagaimana kalau aku kehabisan uang? Bagaimana kalau makan malam tidak cukup? Bagaimana kalau pakaian yang kumiliki tidak layak untuk meeting besok?`
Suatu sore, ia duduk di taman dekat apartemennya untuk beristirahat. Ia melihat seorang ayah sedang bermain dengan anaknya, tertawa lepas, dan hanya membawa segelas air. Mereka tampak bahagia tanpa teknologi, tanpa daftar belanja panjang, dan tanpa cemas tentang hari esok.
Ia kemudian tersadar bahwa hidup lebih penting daripada makanan, tubuh lebih penting daripada pakaian, dan ia tidak perlu membiarkan kekhawatiran menguasai dirinya. Ia memutuskan untuk mulai menaruh kepercayaan pada Allah bersyukur atas apa yang dimiliki, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti: kasih, pelayanan, dan iman. Sejak hari itu, setiap kali notifikasi datang, ia mencoba menarik napas, berdoa, dan mengingat janji Yesus: Allah mengetahui segala yang kita perlukan.
Sr. M. Odilia, P. Karm
Jumat, 19 Juni 2026
2 Raj 11: 1-4.9-18.20 Mzm 132: 11-14.17-18; Mat 6: 19-23
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

