“Dengan memudahkan urusan orang lain, kita meringankan beban hidup sendiri.” -Mas Redjo
Inti nasihat bijak Bapak itu teramat dalam bagi kami, anak-anaknya. Bapak mengajarkan kepada kami akan anugerah Allah yang dahsyat. Dengan peduli dan berbagi ikhlas hati pada sesama, kita membuka pintu rezeki-Nya.
Mensyeringkan pengalamannya sebagai pekerja bangunan, Bapak tidak asal bekerja untuk dibayar. Tapi Bapak memberi nilai tambah pada hasil akhir, bekerja baik demi kualitas dan rapi untuk kepuasan pelanggan.
Resep bekerja berkualitas yang dimaksud Bapak adalah: pelajari, kenali, dan pahami agar pekerjaan itu dapat diwujudkan dengan maksimal dan baik. Tidak asal bekerja, apalagi asal-asalan, tapi bekerja dengan hati, jujur, dan bertanggung jawab agar pelanggan itu puas.
Dengan mengenali pekerjaan itu, kita dapat menghitung biaya dan waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tepat waktu. Jauhi untuk menggetok harga, apalagi berbuat curang supaya pelanggan itu tidak kecewa dan kapok. Bekerja halal itu nikmat dan menyehatkan.
Bapak juga membiasakan diri untuk mengumpulkan material bekas itu agar tidak mengganggu aktivitas penghuni rumah dan warga sekitar. Material yang layak dipakai untuk digunakan lagi, sedang yang jelek dan hancur itu dikarungi atau diikat agar memudahkan dibuang oleh tukang (mobil) sampah.
Para pelanggan yang puas itu lalu mempromosikan pekerjaan Bapak ke warga yang lain. Sehingga Bapak kebanjiran order, dan bahkan pelanggan itu rela antri. Bapak lalu mengkoordinasi teman-temannya. Profesi Bapak pun meningkat, dari tukang beralih jadi pemborong.
“Hidup adalah belajar, Le. Dengan belajar, kita pahami hidup sejati” adalah mantra sakti Bapak untuk anak-anaknya agar kelak kami jadi pribadi yang jujur, sabar, mandiri, dan rendah hati.
Belajar untuk makin rendah hati dan membumi!
Mas Redjo

