Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kamu hias kuda dengan emas, tapi membiarkan Kristus telanjang di dalam orang miskin”
(Santo Chrisostomus)
Tulisan refleksi kita ini, tentang “Bagaimana sebaiknya, orang mengucapkan kata yang tepat pada saat yang tepat!”
Petuah Tyron Edwads
Seperti ucapan Editor dan Teolog Tyron Edwards, bahwa “Kata-kata dapat lebih baik dan lebih buruk daripada pikiran.” Bahwa keduanya mengungkapkan pikiran dan menambahkan makna ke dalamnya; keduanya memberikan kekuatan untuk kebaikan maupun keburukan; keduanya membuat pikiran mulai melayang tanpa akhir untuk memberikan perintah, penghiburan, dan berkat atau justru melukai, menyiksa, dan menghancurkan. Selain itu, diperlukan juga pemilihan waktu yang tepat! (The Maxwell Daily Reader).
Ucapkan Kata yang Tepat pada Saat yang Tepat
Dari statemen di atas, terdapat dua lapis pemaknaan, yakni hal “ketepatan isinya dan ketepatan waktunya!” Artinya:
- Lewat kata yang tepat, isi tuturan yang benar, bijak, dan sesuai konteks dan bukan asbun, juga tidak ngawur dan menyakiti. (Ucapkan kata lewat diksi yang membangun kemanusiaan).
- Waktu yang tepat, sampaikan ucapan pada momentum yang tepat, timing yang pas. Jadi, dalam konteks ini, bukan cuma soal apa yang diucapkan, tapi juga, kapan diucapkan. Ucapan kata yang benar, tapi pada saat yang salah, sama dengan salah. Sebaliknya, ucapan kata yang biasa, tapi pada saat yang pas, justru bisa mengubah keadaan.
Saya mengutipkan teks dari Kitab Amsal 15: 23 “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Berharga dan juga indah).
Amanat Filosofis dari Statemen “Ucapkan Kata yang Tepat pada Saat yang Tepat
Di dalam statemen ini, terkandung isi berupa:
- Aspek kebijaksanaan. Bukankah hidup orang bijaksana itu, tidak dikuasai oleh lidahnya? Mereka akan bertutur secara arif.
- Aspek tanggung jawab. Bukankah kata-kata itu memiliki kuasa? Kuasa yang menghidupkan dan juga kuasa yang mematikan.
- Aspek empati. Bertuturlah pada saat yang tepat, artinya, pandai-pandailah membaca sikon.
Kairos versus Chronos
Dalam filsafat Yunani kuno, “waktu dibedakan antara Chronos yang maknanya sama dengan jam di dinding, dan Kairos, yang sama dengan momen yang menentukan. Lewat ucapan ini kepada manusia pun diajarkan untuk bersikap peka pada Kairos.
Singkatnya!
“Jadilah Tuan atas kata-katamu dan bukan budaknya. Jadilah peka pada aspek waktunya, karena bukankah waktu itu tidak bisa diulang?”
Para Tokoh Arif yang Bertutur Tepat Kata serta Waktu
- 1. Winston Chruchill: tuturannya, “We shall fight on the beaches,” (1940), saat itu Inggris hampir kalah dalam PD II dan jatuh moralnya. Sang Perdana Menteri itu tidak menyodorkan data, tapi menyodorkan keberanian moral. Antara timing dan diksi sama dengan bangsa yang seketika itu bangkit. Inilah bukti konkret, bahwa kata-kata dapat mengubah sikon.
- 2. Martin Luther King Jr.: “I have a dream,” (1963), gelegar pidato politiknya yang mampu membangkitkan harapan pada bangsa Amerika.
- 3. Raja Salomo: “Belalah bayi ini jadi dua.” Tunturan ini terkesan kejam, tapi justru diucapkan pada saat yang tepat. Dalam konteks ini, tidaklah dimaksud dibelah benaran, tapi sebagai cara mengoreksi hati Ibu yang otentik. Hasilnya? Keadilan pun ditegakkan!
Refleksi
- Para arifin itu pun sungguh-sungguh tahu, “kapan mereka harus bicara, dan kapan mereka harus diam.”
- “Tuhan, berilah aku hikmat untuk tahu, kapan aku harus berbicara, kapan saat aku harus diam, dan kerendahan hati.”
(St. Chrisostomus si Mulut Emas)
Kediri, 16 April 2026

