Kisah salah satu konflik besar pertama dalam Gereja Perdana itu cukup serius. Isunya, apakah orang non-Yahudi perlu disunat dan mengikuti hukum Musa agar bisa diselamatkan?
Yang menarik, para Rasul dan Penatua tidak saling menyerang atau memaksakan kehendak. Mereka tidak buru-buru menghakimi. Akan tetapi, mereka berkumpul dan berdiskusi untuk terlebih dahulu mencari kehendak Tuhan dalam doa dan persekutuan. Hasilnya? Sungguh sebuah keputusan yang luar biasa: keselamatan adalah anugerah Tuhan, diterima melalui iman kepada Yesus Kristus – bukan hasil usaha manusia atau kepatuhan terhadap hukum semata.
Kisah itu mengajarkan kepada kita, bahwa perbedaan pandangan itu bukan alasan untuk bertikai. Sebaliknya, perbedaan itu jadi kesempatan untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan kebenaran. Apalagi, Yesus sendiri tidak mengajarkan, bahwa kita harus jadi sama semua. Ia memang memanggil kita untuk bersatu dalam Dia, tapi bukan keseragaman. “Akulah pokok anggur dan kamulah carang-carang-Nya.”
Kesatuan sejati lahir, ketika kita tinggal di dalam dan bersama Yesus, Sang Pokok Anggur. Dengan melekat pada Kristus, kita akan berbuah menghadirkan damai, kasih, dan pengharapan. Sebaliknya, terpisah dari Dia, kita akan layu.
“Ya, Tuhan, jadikanlah hidup kami carang yang berbuah; yang menghadirkan damai, kasih, dan berkat bagi sesama. Amin.”
Ziarah Batin

