“Bahagia itu bukan dicari, melainkan ada dalam diri.” -Rio, Scj.
Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mengejar: pengakuan, cinta, posisi, dan mengejar validasi serta semua itu seolah hanya ilusi. Kadang yang dikejar itu tidak kunjung datang. Yang dicari itu seolah sembunyi. Bahkan saat yang diinginkan itu kita dapatkan, bahagia dan senangnya itu sebentar, lalu bosan.
Stoik mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sunyi. Hidup ini bukan tentang seberapa cepat kita mengejar, melainkan seberapa layak kita menjadi. Layak dalam karakter, sikap, ‘gratitude’, dan layak dalam memperlakukan hidup. Sebenarnya yang layak untuk kita itu tidak perlu dikejar dengan panik. Ia akan datang pada orang yang sabar membentuk dirinya. Pada titik itu kita berhenti berlari, lalu mulai bertumbuh.
Zona pertumbuhan itu memang penuh ketidaknyamanan, tapi membahagiakan. Nyatanya dalam zona nyaman itu tidak ada pertumbuhan. Hidup jadi stagnan. Berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah itulah bahagia yang ditawarkan Tuhan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

