Seorang anak kelas 3 SD bernama Prima memiliki adik perempuan berusia 5 tahun. Prima diminta Ibunya untuk menjaga Adiknya yang sedang berlatih sepeda. Prima mengatakan, ia sangat sayang pada Adiknya dan siap menjaganya. Tapi Prima tidak menjaga Adiknya, ia justru pergi bermain dengan teman-temannya.
Adiknya dibiarkan bersusah payah berlatih dan beberapa kali jatuh. Ibunya lalu menegur Prima: “Kamu berjanji menjaga adik, tapi ternyata kamu tidak melakukan, itu namanya munafik. Kamu berbohong pada Ibu, Adikmu, juga pada Tuhan. Saat itu baru pertama kali Prima mengerti kata ‘munafik’. Ia berjanji untuk tidak munafik lagi.
Tuhan Yesus memberikan peringatan keras kepada kita untuk tidak munafik. Orang munafik itu adalah pembohong. Mereka selalu tampil baik dan mengatakan ‘ya’, tapi perbuatan mereka justru sebaliknya.
Sebenarnya mereka menanggung beban yang tidak ringan. Beban pokok mereka ialah memakai topeng. Mereka menyembunyikan keaslian kepribadiannya dengan tampilan pribadi yang berbeda.
Tiga poin yang dapat direnungkan tentang beban munafik itu. Dalam hal berdoa, kita harus dapat menghindari bebannya, yaitu pujian dan hormat orang lain, bahwa kita adalah orang-orang saleh. Biarkan Tuhan yang tahu, bahwa kita mencintai-Nya. Kita tidak perlu peduli kata orang, bahwa kita rajin berdoa, rutin menghadiri Ekaristi, membaca Kitab Suci, dan sebagainya.
Dalam memberikan perhatian dan pertolongan pada orang lain, biarlah Tuhan Allah yang tahu peebuatan kasih kita. Tanpa harus mewartakan ke mana-mana. Fokus perhatian kita ialah orang yang ditolong, karena di situlah cinta kasih yang berbicara.
Dalam hal berpuasa, kita harus menghindari bebannya, yaitu pengakuan dan hormat dari orang lain. Biarlah Tuhan saja yang tahu tentang bakti kita kepada-Nya melalui puasa. Karena kita yang menjalani, mendapatkan kegunaan, dan maknanya.
Untuk menghindari beban-beban kemunafikan itu, satu nasihat bijak, ialah hendaknya kita jadi diri sendiri dan beriman dengan benar serta tulus. Tuhan lebih mengetahui hati kita, ketimbang diri sendiri. Kemunafikan itu hanya sebagai beban dan tidak berguna.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk selalu hidup dalam ketulusan dan kebenaran. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

