Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Menguji ukuran kesejatian seseorang ialah dengan cara melihat bagaimana ia memperlakukan orang lain”
(Ann Landers)
Ukuran tentang Sebuah Kebaikan
Apa kriteria yang telah diajarkan dan juga diketahui, untuk menentukan dan menetapkan, bahwa seseorang itu memang sungguh baik?
Kebaikan itu Memberimu Sebuah Jalan
Ada sebuah dongeng menarik dari negeri Timur Tengah, tentang seorang pria yang memiliki ‘sebentuk cincin ajaib berjimat’ bertakhtakan permata nan indah.
Bahwa yang mengenakan cincin ajaib itu, dia akan sangat disukai, disenangi, dan bahkan dicintai oleh siapa pun. Karena ternyata cincin itu adalah jimat yang diwariskan Ayahnya kepadanya.
Permasalahan yang dihadapinya ialah karena kini, ia telah memiliki tiga orang putra. Kepada putra yang mana, cincin ajaib itu akan diberikannya?
Jalan keluarnya, ia membuat dua bentuk cincin imitasi lagi yang bentuknya sangat mirip dengan cincin asli itu.
Ketika hampir tiba ajalnya, pria itu memanggil ketiga anaknya dan menyerahkan masing-masing sebentuk cincin kepada mereka. Tapi kemudian timbullah perselisihan, bahwa ‘siapa yang memiliki si cincin ajaib itu?’
Ketiga putranya itu mendatangi seorang Hakim yang dikenal sangat arif untuk membantu memecahkan persoalan mereka. Hakim nan adil itu pun berkata, “Saya tidak mampu mengatakan, cincin yang mana yang ajaib itu, tapi kelak kalian sendiri yang akan membuktikannya.”
“Kami?!” Ketiganya justru kian terperanjat! “Bagaimana kami bisa menentukannya, Tuan?”
“Begini,” kata Hakim itu. “Cincin ajaib ini diharapkan kelak dapat menampilkan ‘sikap kebaikan’ kepada orang yang mengenakannya.”
“Jalan satu-satunya untuk membuktikan, bahwa siapakah yang memiliki cincin ajaib itu ialah dengan cara ia sanggup menunjukkan kehalusan budi kepada siapa pun. Bersikaplah ramah, baik, jujur, dan rendah hati. Pada saat itulah, Anda sudah mampu membuktikan, bahwa Andalah pemilik cincin nan ajaib itu.”
(Tony Castle)
1500 Cerita Bermakna
“Kamu adalah murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi,” demikian sabda Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus.
Ucapan Sang Guru Agung ini dapat disandingkan dengan kriteria dari pemilik cincin nan ajaib yang akan sanggup melakukan kebaikan dan kasih. Mengapa demikian? Ya, karena bukankah, jika seseorang sanggup melakukan perbuatan kasih, maka tindakan itu sebagai sebuah keajaiban juga?
Dalam konteks ini, kepada siapa saja yang sanggup ‘berbuat kasih dan kebaikan’ di dalam kehidupan ini, dialah si pemilik sebentuk cincin nan ajaib itu.
Jika dalam hidup ini Anda sanggup berbuat baik dan kasih, maka sejatinya Andalah ‘cincin nan ajaib itu!’
Refleksi
“Esto Servus Diligens”
“Jadilah Hamba yang Penuh Kasih”
Semoga, jari manis Anda pun dililiti selingkar cicin kasih!
Kediri, 20 Mei 2026

