Sering kali kita merasa terbatas oleh ekonomi, usia, kesehatan, atau persoalan hidup. Dalam situasi seperti itu, kita tergoda untuk merasa tidak berguna dan akhirnya hanya mengeluh serta meratap.
Firman Tuhan mengingatkan, bahwa keterbatasan itu bukan penghalang bagi karya-Nya. Tuhan tidak menuntut kita jadi hebat; Ia hanya meminta hati yang terbuka dan kesediaan untuk melangkah. Bahkan, langkah kecil yang dilakukan dengan kasih dan iman dapat jadi besar dalam rencana-Nya.
Jangan tunggu merasa mampu baru mau melayani; asal kita mau, Tuhan akan memampukan.
Lihatlah Paulus. Ia tiba di Roma bukan sebagai pengkhotbah besar, melainkan sebagai tahanan. Ia tidak memiliki kebebasan fisik, tapi ia tetap memelihara kebebasan iman. Dari rumah tahanan, ia tetap memberitakan Injil ‘dengan segala keberanian dan tanpa hambatan’. Situasinya tidak ideal, tapi semangatnya tetap menyala. Hal ini menunjukkan, bahwa pelayanan sejati tidak bergantung pada kondisi luar, tapi pada komitmen hati yang setia.
Dalam Injil, Yesus menegur Petrus yang mulai membandingkan dirinya dengan murid lain, “Itu bukan urusanmu. Engkau, ikutlah Aku.”
Kita semua mempunyai jalan hidup dan panggilan masing-masing. Yesus mengingatkan agar kita tidak larut dalam perbandingan atau iri hati. Tugas kita adalah setia menjalani panggilan yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Bahkan, hidup yang tampak biasa, jika dijalani dalam kasih dan ketaatan, dapat jadi kesaksian yang luar biasa bagi dunia.
“Ya, Tuhan, pakailah hidup kami untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

