“Kita sibuk mencari ketenangan, padahal Tuhan lebih dekat daripada nafas sendiri. Kita merasa ‘rohani’, tapi lupa Roh Kudus tidak pernah membawa kita menjauh dari Yesus, dari kebenaran-Nya, dan dari Gereja-Nya.”
Allah yang Maharahim, kami diingatkan, bahwa kebenaran itu bukan sekadar pengetahuan, melainkam Pribadi, yaitu Yesus sendiri. Putra-Mu datang bukan hanya membawa ajaran, melainkan menyatakan hati-Mu kepada dunia.
Dalam Injil, Yesus tahu para murid itu belum sanggup memahami semuanya. Hati mereka masih dipenuhi ketakutan, luka, dan keterbatasan. Tapi Yesus tidak meninggalkan mereka. Ia menjanjikan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang akan menuntun mereka perlahan, tapi pasti kepada seluruh kebenaran.
Murid-murid yang dulu takut itu jadi saksi. Yang tertutup jadi terbuka bagi semua bangsa dan yang lemah jadi penuh keberanian.
Bapa, dunia kami ini mirip seperti Athena pada zaman St. Paulus: penuh suara, opini, ambisi diri, dan rasa haus akan hal rohani. Banyak orang mencari makna hidup, tapi tanpa arah yang benar. Banyak orang ingin spiritualitas, tapi tanpa pertobatan. Banyak orang ingin damai, tapi tanpa menyerahkan hati kepada-Mu.
Roh Kudus tidak membawa kebingungan: Ia membawa terang.
Ia tidak menyesatkan: Ia memurnikan. Ia tidak menjauhkan kami dari Yesus: Ia membawa kami makin dekat kepada-Nya.
Seperti Paulus memperkenalkan “Allah yang tidak dikenal,” mampukan kami juga untuk bersaksi, bahwa Engkau bukan Allah yang jauh. Engkau dekat. Dalam Engkau, kami hidup, bergerak, dan ada. Bahkan saat kami jatuh, malu, atau merasa tidak layak, Engkau tetap memandang kami sebagai anak-anak yang Kau kasihi.
Melalui teladan Bunda Maria dari Fatima, kami diingatkan, bahwa Surga masih memanggil dunia untuk kembali kepada doa, pertobatan, dan damai sejati. Di Fatima, Bunda Maria datang bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membawa hati manusia kembali kepada Yesus. Ia mengajak kami berdoa Rosario, meninggalkan dosa, dan percaya pada belas kasih Allah yang tidak pernah habis.
Datanglah, ya, Roh Kudus. Jauhkan kami dari kebohongan dan tipu daya dunia. Jagalah kami tetap setia pada Sabda Tuhan, ajaran Gereja, dan Kristus Sang Kebenaran Sejati.
Ajarlah kami menyembah Bapa bukan hanya dengan perasaan, melainkan dalam Roh dan kebenaran. Karena kebebasan sejati bukanlah saat kami menciptakan ‘kebenaran’ sendiri, melainkan saat hidup kami dibentuk oleh Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri.
Allah yang kami cari ternyata tidak jauh. Ia ada di sini, mengenal kami sepenuhnya, dan tetap mengasihi kami tanpa batas.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

