Sebuah potret nyata tentang pengorbanan tanpa batas seorang Ibu. Meski raga lelah dan cuaca tak menentu, senyumnya tetap jadi kompas bagi anak-anaknya.
Pagi belum terjaga, tapi langkahnya sudah melampaui mimpi. Sambil mengantar sekolah dengan karung di pundak, ia tidak sedang memulung sisa… ia sedang merangkai masa depan.
Dunia melihat sisa, tapi anak-anaknya melihat harapan. Terima kasih telah mengajarkan, bahwa cinta itu tidak butuh kemewahan. Hanya butuh ketulusan yang tidak surut oleh hujan, dan tak luntur oleh terik.
Pundakmu sekeras baja, tapi hatimu seteduh doa. Untukmu dan semua Ibu yang mandiri: “Lelahmu adalah ibadah yang mengangkasa. Di mata dunia kau biasa, tapi bagi mereka… engkaulah seluruh semesta.”
Tetaplah bersinar, Ibu, karena di telapak kakimulah Surga itu kami jemput.
Berkah Dalem.
Jlitheng

