“Di tengah begitu banyak suara, hanya satu suara yang memberi hidup; sudahkah kita benar-benar mengenalnya?”
Allah yang Maharahim, Engkau mengundang kami bukan hanya untuk melihat Yesus, melainkan untuk mendengarkan Dia.
Di tengah perayaan terang, Yesus berdiri dan menyatakan diri-Nya. Tapi banyak orang tetap tinggal dalam kegelapan, bukan karena terang itu tidak ada, melainkan karena mereka tidak mau percaya.
Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.”
Suara-Mu, ya, Tuhan, bukan sekadar bunyi, melainkan itu adalah kebenaran, kasih, dan hidup.
Bapa, kami mengaku: sering kali kami tidak memberi ruang untuk mendengarkan Engkau. Kami berdoa terburu-buru, lebih banyak berbicara daripada mendengar, lebih memilih kenyamanan daripada kedekatan dengan-Mu.
Ampuni kami, ya Bapa. Bukan Engkau yang diam, melainkan kami yang tidak sungguh mendengarkan.
Kami memilih untuk berubah. Untuk diam di hadapan-Mu: membuka hati kami yang rindu mendengar suara-Mu.
Tuhan, hidup kekal itu bukan hanya nanti, melainkan dimulai sekarang: mengenal Engkau dan mengasihi Yesus, Putra-Mu.
Bapa, terima kasih karena tidak ada seorang pun yang dapat merebut kami dari tangan-Mu. Dalam setiap ‘garis bengkok’ hidup kami, Engkau tetap bekerja dengan sempurna.
Seperti Gereja perdana, yang tampak sebagai penderitaan itu justru jadi jalan pewartaan, yang terlihat sebagai kegagalan itu jadi pertumbuhan.
Kami menyerahkan semua jalan hidup kami kepada-Mu. Berbicaralah, ya, Tuhan, kami mendengarkan. Pimpinlah kami, agar kami setia mengikuti.
Yesus, Gembala yang baik, selaraskan hati kami dengan suara-Mu, dan jadikan kehendak-Mu kehendak kami.
Inilah kami, Tuhan. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

