“Musuh mengikat dan memecah.
Yesus datang untuk membebaskan dan mempersatukan. Mana yang akan kupilih?”
Dalam Injil, Yesus mengusir roh jahat dari seorang yang bisu. Seketika itu juga orang itu dapat berbicara kembali. Betapa indahnya saat itu. Hidup dipulihkan, suara yang hilang telah kembali, dan hati yang dilepaskan dari belenggu.
Faktanya, bukannya bersukacita, beberapa orang itu justru menuduh Yesus. Mereka melihat mukjizat, tapi menolak untuk percaya. Hati mereka jadi keras, seperti yang diperingatkan oleh Pemazmur: “Janganlah keraskan hatimu.”
Ya, Allah, sering kali kami juga seperti itu. Engkau bekerja diam-diam dalam hidup kami; menyembuhkan, menuntun, dan melindungi. Tapi kami tidak menyadarinya. Bahkan kadang kami lebih mudah mendengar suara ketakutan, kesombongan, atau keraguan daripada suara Putra-Mu.
Yesus mengingatkan kami, bahwa tidak ada sikap netral. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.”
Tuhan, kami ingin bersama Yesus.
Dialah Yang Paling Berkuasa,
yang mematahkan belenggu dosa,
dan mengusir kegelapan yang membuat hati kami bisu serta takut.
Melalui Dia, Kerajaan-Mu hadir di tengah kami.
Ajarlah kami berjalan dalam jalan-Mu, seperti yang Engkau firmankan melalui Nabi Yeremia.
Tolonglah kami untuk tetap dekat dengan Yesus: dalam doa, Ekaristi, dan dalam setiap langkah hidup kami.
Lunakkanlah hati kami kembali. Biarlah mulut kami memuji nama-Mu.
Yesus, aku memilih untuk tetap bersama-Mu.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

