1.
Nasib Kang Minta
Jiwa raganya terpatri pada dua buah labu
rindu terakhir Kang Minta berlabuh
damba penutup Kang Minta ditautkan
Lantaran miskin dan tak berdaya
terpaksa memetik buah milik tetangga
Agar bisa menjahit nafas dengan Ibunda
Biar bisa dimasak untuk berbuka puasa
Kang Minta yang miskin lanjut usia
menjaga Ibunya yang tua renta
Tetangga yang membela buah miliknya
hancurkan rindu damba dengan amarah
Luka darah terkapar tak berdaya
Kang Minta harus meregang nyawa
disaksikan dua buah labu tanpa suara
dipelukan Ibu tua yang lara merana
Sebuah balada kemanusiaan di wajah bangsa
yang punya Pancasila dan agama
2.
Balada Masyarakat Adat
Semesta hadirkan suku bangsa
lahir beranak pinak di Nusantara
Ada aneka suku adat budaya
para leluhur mewariskan dengan cinta
hidup dibesarkan alam jagat raya
Ini tanah lahir dan tumpah darah kami
Tanpa kertas, tanpa kerajaan
tanpa Negara
Tanah adat budaya tumpah darah
adalah anugerah Sang Pemilik Semesta
Telah diwariskan para sepuh leluhur
dan dipinjamkan para anak cucu
Kita yang sekarang hanya penggarap dan penumpang
maka harus menjaga dan merawat bijaksana
Dalam kesahajaan dan keterbatasan
harus dihadapi arus fakta zaman
Perubahan yang canggih dan modern
yang tak mampu dilawan dan dihentikan
Kata dan angka datang meraja
Negara terlahir dengan kata-kata
Para penguasa ciptakan aturan
Para pejabat membuat kertas hak milik
Lalu merampas tanah tumpah darah rakyat
hancurkan suku adat budaya
Karena Negara mempunyai kuasa dan senjata
Ciptakan korupsi sebagai budaya dan kebanggaan
Kata-kata dan angka berbisa
Negara dan pemilik modal bersatu
Karena memiliki uang dan teknologi
Untuk menguras sumber daya alam secara brutal
bahkan tak segan musnahkan para pewarisnya
Dengan alasan kata suci mulia
demi pembangunan kesejahteraan dan keadilan seluruh bangsa
Nasib masyarakat adat budaya galau
merana di tengah kelimpahan warisannya
Tergusur dan mati di tanah tumpah darahnya
3.
Kisah Pengemis dan Gelandang
Kami bocah-bocah pewaris negeri
masih melihat kibar merah putih
Sahabat kami deru debu tanah
karena pembangunan negara bukan untuk kami
Entah mengapa terlahir di sini
Apakah kami juga manusia dan rakyat
Kami tidur beralaskan koran
tanah adalah ibu kami
langit atap rumah kami
Hujan dan panas saudara kami
Makan minum dari sisa orang
dan dibumbui caci maki serta hujatan
Kami disebut sampah masyarakat dan virus pembangunan
Apakah kami juga pewaris bangsa?

