Kebenaran Iman Kita

Kota Avila di Spanyol bagian tengah, adalah kotanya Santa Teresa. Ia dikenal, karena kesucian, keperkasaan, dan keunggulannya dalam semangat hidup Kristen, serta mampu mengubah seluruh masyarakat di kota itu. Teresa berasal dari keluarga bangsawan yang paling berpengaruh dan dipandang sebagai tanda keselamatan kota itu.
Avila adalah satu-satunya kota yang seluruh sisinya dilindungi tembok abad pertengahan yang masih utuh. Hampir tidak terlihat reruntuhan atau puing temboknya seperti di banyak kota lain di dunia, akibat perang atau tidak ada perawatan yang berarti. Bagi warga dunia, Avila adalah sebuah pengakuan yang jujur akan kokohnya iman Kristen pada Teresa secara khusus dan karakter budaya yang melekat pada Spanyol dan Eropa.
Permenungan tentang salib Tuhan Yesus sebagai jembatan bagi kita untuk sampai ke Surga merupakan salah satu warisan rohani Santa Teresa. Ajaran ini ikut memperkaya permenungan Kristen tentang iman yang membenarkan kita dan bukan hukum. Menurut hukum, salib adalah sebuah konsekuensi atas tindakan kejahatan yang sangat besar. Ujungnya ialah kematian yang sangat tidak bermartabat. Tapi menurut iman tidak demikian.
Salib Yesus Kristus membenarkan, bahwa panggilan kita menjadi pengikut Kristus sudah dirancang oleh Tuhan Allah, bahkan sebelum jagat raya dijadikan, kata Santo Paulus. Kita sudah ditentukan oleh Tuhan Yesus, bahwa kita adalah milik-Nya dan untuk menjadi sempurna seperti Dia, kita wajib melalui salib. Orang yang tidak mengakui salib berarti ia bukan seorang pengikut Kristus yang sesungguhnya.
Kebenaran iman adalah sebuah cakrawala kenyataan hidup yang tidak ada batasnya. Kita memiliki rahmat di dalam suatu keabadian, meskipun kita dan hidup di dunia ini tidak abadi. Salah satu buktinya ialah kerahiman Tuhan yang selalu abadi. Setiap kali berdosa, kita datang kepada Tuhan yang mempunyai belas kasih dan pengampunan yang tidak pernah habis. Meskipun, misalnya kita lupa dan tidak menerima sakramen-sakramen, kebenarannya tidak pernah hilang, karena tidak dihiraukan atau tidak diberi perhatian oleh kita.
Kebenaran iman melampaui semua jenis kebenaran yang berdasarkan sudut pandang berbeda-beda, yang datang dan pergi dari waktu ke waktu. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ingin sekali menghalangi kebenaran itu dan mereka tidak berhasil. Demikian pula saat ini, kebenaran apa pun, tetap mengakui kebenaran iman akan Tuhan yang menentukan layak tidaknya kita sebagai manusia yang bermartabat dan umat Tuhan yang benar.
“Ya, Tuhan, terimalah persembahan diri kami dan sucikanlah kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.