Hidup Benar, karena Iman

“Iman itu tidak diukur dari besarnya, tapi dari kebesaran Allah yang kita percayai.”
Allah yang Maha Rahim,
Nabi Habakuk dan Yesus sama-sama bertanya, “Sampai kapan?”
Habakuk bertanya, mengapa kejahatan seolah menang. Yesus bertanya, mengapa para murid masih begitu sulit percaya.
Sering kali pertanyaan itu juga muncul dalam hatiku. Mengapa doaku terasa belum dijawab? Kesembuhan belum datang? Mengapa persoalan ini belum selesai?
Engkau mengingatkan kami, bahwa persoalannya itu bukan apakah Engkau setia, melainkan apakah kami tetap percaya.
Yesus tidak meminta iman yang besar. Ia hanya menyebut biji sesawi: kecil, hampir tidak terlihat, tapi hidup. Iman yang hidup itu akan terus bertumbuh, karena melekat kepada-Mu. Bukan pada kekuatanku, pengalamanku, juga bukan pelayananku yang menghasilkan mukjizat, melainkan kuasa-Mu yang bekerja melalui hati yang percaya.
Sering kali aku seperti para murid: lebih mengandalkan pengalaman daripada bersandar kepada-Mu. Ajarlah kami untuk selalu memulai dengan doa, berjalan dalam iman, dan menyadari bahwa setiap karya-Mu lahir dari rahmat-Mu.
Pada peringatan Santo Dominikus ini, ajarlah kami mencintai kebenaran, tekun mewartakan Injil, dan tetap rendah hati di hadapan-Mu. Semoga hidup kami sendiri jadi pewartaan yang membawa orang semakin mengenal Kristus.
Putra-Mu pernah berkata kepada Santa Faustina, bahwa jiwa-jiwa yang memiliki kepercayaan tanpa batas merupakan penghiburan besar bagi-Mu. Aku datang dengan iman yang sederhana, tapi penuh harapan. Siramilah benih iman yang telah Engkau tanam sejak hari pembaptisanku, agar terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi banyak orang.
Bapa, di saat kami belum melihat jawaban doa, mampukan kami tetap percaya, bahwa Engkau sedang bekerja, dan kerahiman-Mu selalu melingkupi kami.
Orang benar hidup oleh iman.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.