Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di negeri orang buta, orang bermata satu adalah raja.”
(Desiderius Erasmus)
Di dunia ini, alangkah sulitnya, menemukan sosok-sosok pribadi yang sungguh-sungguh bersikap “berani dan jujur sejati untuk melihat kelemahan” diri kita di dalam hidup yang serba semu ini. Mengapa demikian? Ya, karena bukankah biasanya orang akan berusaha mati-matian untuk menyembunyikan kelemahannya itu?
Nilai Tersembunyi yang Rela Dikorbankan
Bukankah dalan hidup ini kita sering kali mengorbankan sikap kesejatian yang adalah sebuah nilai luhur, demi menjaga suasana nyaman dan perasaan orang lain? Padahal di sisi lain, betapa vitalnya sikap “berani untuk melihat yang tidak diacuhkan dan diabaikan orang lain.” Dampaknya, lewat kondisi semu yang serba permisif ini, kita secara tidak langsung, telah menguburkan sebuah nilai luhur. Lewat asumsi yang rapuh dan data dan fakta yang serba valid, kita telah menguburkan nilai kejujuran di dalam diri kita.
Makna Sejati dari si Mata Satu
Jadi sosok pribadi ‘si mata satu’ bermakna, bahwa kita berani untuk melihat lebih jauh dan kritis untuk berbicara jujur di saat semua orang mengambil sikap untuk menutup mata demi sebuah kenyamanan semu.
Apakah Anda dan saya berani untuk melihat sebuah kenyataan yang sebenarnya ataukah sekadar ikut-ikutan demi sebuah kenyamanan semu?
Peganglah Erat Kunci Utama ini!
Sikap ‘berani dan jujur’ itu adalah ‘kunci utama’ demi mengenal diri sendiri dan meningkatkan kualitas hidup ini.
Jika Anda sungguh berani untuk menghadapi kelemahan sendiri, berarti Anda tidak mengambinghitamkan atau menutupi kesalahan sendiri, tapi mengakuinya dengan jujur kepada orang lain. Dalam konteks ini, berarti Anda telah membangun fondasi hidup yang lebih kokoh dan otentik.
Refleksi
- Ketahuilah, bahwa hanya lewat sikap ‘keberanian dan kejujuran sejati,’ Anda telah turut membagun mercusuar kemanusiaan di atas jagad hidup ini.
- Mari kita belajar dari kesetiaan sekeping mentari yang tak pernah ingkar janji!
“Veritatis Simplex Oratio est”
“Bahasa Kebenaran itu memang Sederhana”
(Seneca)
Kediri, 9 Maret 2026

