“Yesus mengenal kita sepenuhnya, namun tetap mengasihi kita tanpa batas.”
Sabda Allah membawa kami ke sebuah sumur di Samaria.
Di sana Yesus duduk, letih dan haus, lalu berkata kepada seorang perempuan: “Berilah Aku minum.”
Pada awalnya seolah-olah Yesus yang membutuhkan air. Namun perlahan kami menyadari sesuatu yang lebih dalam: justru Yesus yang memberikan air hidup.
Perempuan itu datang ke sumur, bukan hanya membawa tempayan, melainkan membawa luka duka, relasi yang hancur, dan dahaga hati yang belum pernah terpuaskan.
Yesus tidak menolaknya. Ia singkapkan kebenaran hidupnya, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyembuhkan.
Yesus mengetahui seluruh hidupnya. Tapi Ia tetap tinggal bersamanya.
Bapa, sering kali kami juga kembali ke ‘sumur’ yang sama. Kami mencari kepuasan dalam keberhasilan, kenyamanan, pengakuan, kesenangan, atau kekuasaan. Tapi semua itu tidak pernah mampu memuaskan dahaga terdalam hati manusia.
Sabda-Mu mengingatkan, ketika kami masih berdosa, Kristus telah mati bagi kami. Di salib, Batu keselamatan kami dipukul. Dari lambung-Nya yang tertusuk itu mengalir darah dan air: kerahiman yang memberi hidup kekal.
Yesus tidak hanya haus akan air. Ia haus akan jiwa-jiwa. Ia haus akan kami.
Ketika perempuan itu mengalami kerahiman-Nya, hidupnya berubah.
Ia tinggalkan tempayannya. Tempayan yang tadinya melambangkan kebutuhannya tidak lagi penting, karena ia telah menemukan Dia yang memuaskan setiap dahaga. Ia berlari kembali ke kota dan bersaksi: “Marilah lihat seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
Bapa, Yesus masih menunggu kami di sumur baru: Ekaristi. Ia mengetahui masa lalu kita, kelemahan, dan luka tersembunyi kita. Tapi Ia tetap menawarkan air hidup dari kerahiman-Nya.
Lunakkanlah hati kami, ya Tuhan, agar kami tidak mengeraskan hati seperti umat Israel di padang gurun.
Beranikanlah kami meninggalkan ‘tempayan’ yang mengajak kami terus kembali ke sumur yang hampa. Penuhilah hati kami dengan Roh-Mu, air hidup yang memancar sampai kehidupan kekal.
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

