Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Calamus Scriptoris Velocis”
“Pena Penulis yang Cekatan”
(Mazmur 45: 2)
Manfaat Setangkai Mata Pena
Setangkai mata pena, ternyata bisa jadi sebilah pedang berdarah atau bahkan juga sebagai sebatang tongkat bagi gembala. Tapi di ujung setangkai mata pena itu justru terdapat dua buah alternatif: “Membunuh ataukah menyembuhkan?”
Kerangka Tiga Babak
- Gurun Informasi
Adalah riil, bahwa kita kini sedang hidup dan beria-ria di atas lautan padang pasir hoaks. Suatu tempat atau keadaan yang sangat kerontang, dan oase itu sangat susah ditemukan, tapi fatamorgana, justru hadir di mana-mana. Ujung pena wartawan, guru, dosen, content creator itu turut menentukan: jika manusia haus, justru kian mati, ataukah ia akan bertemu mata air.
Kalimat kuncinya! “Di gurun digital, satu paragraf bohong itu bisa jadi seganas badai pasir yang sanggup menguburkan sebuah bangsa.”
- Antara Pena Kemanusiaan versus Pena Bandit
Pena kemanusiaan itu digunakan untuk mendidik: demi meluruskan hati yang bengkok, mulut yang rewel dan hati yang lancang. Sedangkan mata pena para bandit itu digunakan untuk menjual: kepanikan, kebencian, gengsi, dan juga menjual sensasi murahan.
Ujung pena kemanusiaan itu tidak menunjuk ke atas untuk menghakimi, tapi justru menunduk ke bawah demi merangkai kata dan merangkul hati.
- Spiritualitas Tinta
Menulis itu ibaratnya berdoa. Sebelum Anda menulis, tanyakan, “Tulisan ini berdampak, bahwa pembaca itu akan lebih manusiawi, ataukah justru kian kurang manusiawi?” Laksana seorang serdadu yang sedang menggenggam seutas Rosario di dalam parit: memegang setangkai pena juga sambil berdoa.
Refleksi
- Dengan menuliskan kemanusiaan, berarti Anda telah meluapkan aneka peristiwa yang telah dilakoni manusia: suka pun duka.
- “Tenyata Tuhan telah menuliskan seluruh sejarahmu dengan tinta darah Putera-Nya. Anda dan saya cukup menulisnya dengan setetes tinta kejujuran.”
- Justru lewat karya tulismu itu, Anda telah turut mengabadikan kemanusiaan semesta!
Kediri, 5 Mei 2026

