“Tubuh itu jujur, pikiran senang mencari pembenaran dan alasan.” -Rio, Scj
Tubuh itu jujur. Jika diberi banyak asupan makan, tubuh ini jujur merespon. Responnya tiba-tiba badan berkembang ke mana-mana. Perut buncit, lemak di mana-mana, kolesterol, asam urat, gula darah naik drastis, jantung dan ginjal bekerja keras. Jika kurang tubuh ini akan bicara apa adanya. Beda dengan pikiran yang mencari pembenaran dan alasan.
Meski tubuh jujur, sering kita tidak mau mendengar jeritan tubuh. Sering kita malah mendengarkan pikiran dan perasaan. Padahal setiap kali kita menahan kecewa dan derita, setiap kali pula kita pura-pura kuat seolah baik-baik saja: “nggak apa-apa kok, santai saja, tenang semua beres kok.” Kedengarannya baik dan sopan. Kenyataannya semua itu dicerna dan disimpan tubuh. Sayangnya kita tidak pernah diajarin cara untuk mendengarkan tubuh.
Itulah kenapa tiba-tiba kita pusing. Tiba-tiba serangan jantung, terkena kanker stadium 4. Bahkan yang paling sederhana badan ini terasa sakit semua, nafas sesak, badan merasa capek padahal tidak melakukan aktivitas berat, bahkan tidak ngapa-ngapain. Tubuh tidak rendom, tapi tubuh menyimpan semuanya, bahkan yang tidak sempat dirasa.
Semua itu bukan tentang kita lemah, melainkan karena kita terlalu lama tidak mendengarkan tubuh. Terlalu sering menahan, karena tidak enakan. Menahan agar terlihat kuat. Tidak peduli dengan tubuh ini agar terlihat baik-baik saja. Harap diingat, tubuh ini akan mencari cara untuk bicara. Tubuh ini jujur bicara tanpa drama dan alasan.
Mari, mulai hari ini kita memberi perhatian pada kejujuran tubuh, ruang untuk mendengarkan tubuh, dan memberi waktu untuk apresiasi pada tubuh. Kita ini bukan pemilik kehidupan, tapi kita pemelihara kehidupan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

