“Ketika perbuatan baik itu dibalas dengan hal-hal buruk dan jelek berarti Setan tidak berkenan dan menolaknya. Tetaplah sabar, rendah hati, dan ikhlas.” -Mas Redjo
…
Hal itu saya alami, tidak sekali dua, tapi hingga menguji kesabaran hati ini. Maksud baik saya disepelekan dan tidak ditanggapi oleh pekerja bengkel di depan toko.
Ya, sejak ganti kepemilikan bengkel itu, si empunya seperti tidak peduli, apalagi mengurusnya.
Semula saya diam, ketika halaman saya digunakan untuk parkir mobil bengkel, karena bertetangga. Saya ingat empunya bengkel lama yang baik. Kami bersilaturahmi dan saling mengunjungi.
Ketika orang bengkel menggunakan halaman untuk memperbaiki mobil, saya segera memintanya pindah ke tempatnya. Ternyata mengingatkan karyawan yang satu, diulang oleh yang lain seperti halaman milik sendiri. Lebih menjengkelkan itu adalah, setelah memarkir mobil di tempat saya, mereka ngeloyor pergi, sehingga menyulitkan tamu saya. Saya harus ke bengkel, meminta mereka agar memindahkan mobil itu.
Ternyata, yang dibuat jengkel oleh bengkel itu juga warga lingkungan, karena bengkel memarkir 3-4 mobil berderet di jalan, dan mengganggu mobilitas warga. Bengkel itu telah dikomplain oleh warga, tapi tidak ditanggapi. Meskipun sesekali muncul gesekan kecil.
Saya juga telah meminta tolong pada seorang Ibu, teman Bu Bos yang empunya bengkel. Ketika Ibu itu menumpang parkir di tempat saya agar Bu Bos itu mengatur karyawannya. Tapi permintaan saya tidak ditanggapi.
Puncak kesabaran saya diuji, ketika mobil truk barang dari tempat saya tidak bisa ke luar, karena terhalang oleh mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan depan bengkel.
Dengan menarik nafas panjang, dan berusaha tetap sabar, saya lalu meminta anak muda itu untuk meminggirkan mobil agar truk barang itu bisa lewat.
“Saya hanya bekerja,” sahutnya pendek, cuwek, dan tidak peduli.
Emosi saya meletup! Bersyukur, akhirnya mobil truk itu bisa lewat. Jika menyenggol mobil?
Saya lalu masuk ke bengkel untuk menemui beberapa pengurusnya, meski selalu diacuhkan. Tapi untuk kali ini saya meminta ketegasan sikap mereka. Karena cepat atau lambat, komplainan warga itu jadi bom waktu yang bakal meledak!
Tidak lama setelah saya ke luar dari dalam bengkel, di jalanan depan bengkel itu ditaruh umbrukan sampah dan pot-pot tanaman oleh warga agar tidak bisa digunakan parkir lagi.
Semoga Bu Bos bengkel itu sadar diri untuk mengambil hikmahnya!
Tetaplah sabar, rendah hati, dan ikhlas.
…
Mas Redjo

