Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Per Aspera ad Astra”
“Lewat Bebatuan Sampai ke Bintang”
(Adagium Romawi Kuno)
Tuhan telah Menyiapkan Semuanya
Tuhan tidak pernah menjanjikan sebuah jalan hidup yang serba aman, nyaman, dan mudah untuk dicapai. Tapi Tuhan telah membentuk dan memberikan kita otot-otot kaki serta daya kreativitas, agar kita mampu berpikir dan berjuang demi melewati jalan-jalan nan terjal serta tantangan dalam hidup ini.
Lewat tulisan refleksi ini, kepada kita disuguhkan tantangan hidup, gangguan hidup, berupa fenomena ‘batu sandungan’.
- Apakah itu Batu Sandungan?
Makna harfiah: Batu kecil di jalan yang membuat orang tersandung, jatuh, atau terhambat jalannya.
Makna kiasan: Hal-hal yang menghalangi, menggagalkan, atau melambatkan langkah hidup orang.
Di Dalamnya Terdapat Tiga (3) Lapisan Makna
- 1. Penghalang Eksternal: Pemimpin, sistem, aturan, atau birokrasi yang menghambat hidup.
- 2. Penghalang Internal: Datang dari dalam diri sendiri: trauma masa kecil, sikap malas, atau gengsi tinggi.
- 3. Ujian Bermakna: Secara tradisi, batu sandungan itu adalah ‘alat ukur’ dan bukan sekadar sebuah musibah hidup.
Jadi, ‘batu sandungan’ itu sama dengan gangguan yang memaksa kita untuk sadar memilih jalan atau cara arif, agar dapat ke luar dari kemelut hidup ini.
- Realitas Fenomena Batu Sandungan sebagai Gangguan Hidup
Fakta hidup telah membuktikan, bahwa jalan hidup ini, pasti ada gangguan dan tantangannya. Tidak ada jalan hidup yang mulus dan rata total.
Bentuk Batu Sandungan
Baru sandungan itu dapat berbentuk:
- Orang: hadirnya teman yang iri hati, suka sabotase, atau keluarga yang tidak solid.
- Sistem: negara yang doyan KKN, pendidikan yang mahal, atau pajak yang membebani rakyat.
- Peristiwa: PHK, pernah dibohongi teman, atau mendadak sakit.
- Diri sendiri: pribadi yang berperfeksionis, overthinking, dan kepala batu.
- Batu Sandungan dan Filosofi Hidup
Adalah sebuah utopia atau pun mustahil, jika hidup ini tanpa ada batu sandungan. Bukankah ‘masyarakat itu adalah himpunan orang yang bisa saling jadi batu sandungan, atau pun sebaliknya, saling jadi batu pijakan?
Filosofinya Demikian!
- Sebuah ujian empati: melihat orang tersandung, Anda pun tertawa. Melihat orang gagal, kamu pun mencemooh.
- Hukuman karma sosial: ada orang yang hobi jadi batu sandungan bagi orang lain. Maka, cepat atau lambat, akan tersandung batu ujian yang lebih besar.
- Dialektika Hegel versi jalanan: ada tesis kamu ingin maju, ada antitesis berupa batu sandungan, lalu lahirlah syntesis berupa: kamu jadi versi yang lebih baik.
- Ekses Negatif dari Hadirnya Fenomena Batu Sandungan
Ekses Negatif bagi Individu
- Luka berkepanjangan: jatuh bangkrut selamanya.
- Kepahitan hati: hidup tertekan dan rasa tidak bahagia.
- Stagnasi: energi hidup habis terkuras, tapi tak membawa perubahan hidup.
Ekses Negatif bagi Masyarakat
- Tumbuh suburnya budaya saling jegal.
- Krisis kepercayaan satu terhadap yang lain.
- Pemborosan energi kebersamaan dalam masyarakat.
Refleksi
- Hidup dan kehidupan ini, ibaratnya seseorang yang sedang melintasi sebuah jalan panjang: selain jalan itu panjang berkelok dan berliku, tapi juga ada turun dan naiknya yang sangat bervariasi.
- Hindarilah untuk memimpikan, bahwa jalan hidup ini tanpa aral merintangi. Tidak!
- Di sinilah, terletak seni serta variasi hidup!
- Anda pun tak pernah seorang diri melintasinya.
- Maka, berjalanlah bersama, sambil menikmati indahnya hidup pun rintangannya!
Itulah, unik dan indahnya sebuah batu sandungan!
Kediri, 26 April 2026

