Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Nosce Te Ipsum”
“Kenalilah Dirimu Sendiri”
(Adagium ini terukir indah di Kuil Apollo di Delphi, Yunani)
Peribahasa Klasik
Peribahasa “Ibarat kacang melupakan kulit,” adalah sebuah metafora yang mendeskripsikan sikap ‘ingkar janji, lupa diri, lupa daratan, tidak tahu diri, serta lupa akan asal usul.’ Ya, sebuah peribahasa yang maknanya terkesan sangat menyakitkan hati.
Refleksi Filosofis dan Spiritual
- Refleksi Filosofis: inilah sebentuk krisis identitas dan ingatan kolektif.
Secara filosofis, kulit itu bukanlah sekadar pembungkus raga lahir, melainkan sepotong sejarah, sebuah konteks, dan fondasi eksistensi.
Kulit itu adalah radiks historis (Historicity). Bukankan ‘biji’ kacang itu tidak bisa ada, tanpa kulit yang melindungi saat biji kacang masih muda? Juga kulit itu sebagai simbol masa lalu, orangtua, Guru, kampung halaman, atau juga suatu perjuangan awal. Jika Anda lupakan kulit, itu berarti Anda telah mengalami krisis identitas.
Ilusi otonomi mutlak: sikap ingkar ini muncul, ketika Anda merasa, bahwa kesuksesan ini hanya berkat usaha personal. Padahal, secara ontologis, bukankah setiap keberadaan itu adalah ‘hasil’ dari jaringan sebab-akibat yang maha luas?
Sikap pengkhianatan terhadap sebuah kebenaran: di dalam adab etika, kebenaran termasuk dari mana kita ini berasal.
- Refleksi Spiritual: Kesombongan versus Kerendahan Hati
Secara spiritual, ‘kacang lupa kulit’, adalah sebuah manifestasi dari dosa kesombongan (Superbia) dan ketidakbersyukuran:
Kulit, sebagai sebuah simbol anugerah dan perantara.
Dalam pandangan iman, kulit bisa dimaknai sebagai sesama manusia atau ciptaan yang digunakan Tuhan untuk menyalurkan berkat. Jadi, orangtua, Guru, atau teman yang telah membantu kita adalah ‘kulit’ yang telah melindungi dan membesarkan kita.
Hilangnya Rasa Syukur (Ingratitude), menurut Santo Thomas Aquinas adalah sikap ketidakbersyukuran sebagai sebuah dosa serius, karena ia telah menutupi pintu bagi anugerah lebih lanjut.
Pemutusan Relasi Kasih: Spiritualitas Kristen justru menekankan pada aspek komunio dan relasi. Karena kita diselamatkan, bukan karena diri kita sendiri, tapi di dalam tubuh Kristus (komunitas).
- Sebuah Renungan Mendalam: Mengapa kita bisa lupa?
Mengapa kacang bisa melupakan kulitnya?
Hal ini pun dapat terjadi karena antara lain:
- Manusia telah disilaukan oleh cahaya kesuksesan: di saat manusia telah berada di puncak karier, maka pemandangan yang berada di bawahnya (asal usul), sudah tampak kian kecil, dina, dan sudah tidak penting lagi.
- Rasa malu pada masa lalu: ada niat untuk menyembunyikan asal usul yang sudah dianggap ‘rendah’ atau bahkan ‘memalukan’ hanya demi sebuah status baru.
- Ego yang kian membengkak: merasa keberhasilan itu adalah murni hasil kerja keras personal, tanpa campur tangan pihak manapun.
Refleksi Akhir
- “Tuhan, sesungguhnya, siapakah diriku ini, sampai-sampai aku lupa dari manakah asal usulku?”
- Memang, manusia dalam kemegahan, sering kali bersikap ibarat ‘kacang yang melupakan kulitnya!’
Kediri, 3 Juni 2026

