Pagi ini hatiku agak sendu. Hujan deras menghentikan langkah untuk memulung,” ujar salah satu anggota WA grup ini.
Senandung ini kutulis untuk kawan pemulungku.
Derap langkah kaki yang tidak terhenti, peluh pun mengucur membasahi pipi, dia tetap berjalan dengan keranjang di punggungnya, terik panas tak dihiraukan, hujan membasahi badan pun bukan hambatan.
Harus kita sadari, tanpa pemulung maka barang-barang bekas itu tiada makna, hanya sampah yang mengganggu. Namun oleh jasa si pemulung, barang bekas itu jadi mempunyai harga, secara ekonomi ataupun sehatnya lingkungan.
Bukankah demikian keberadaan kita tanpa Pemulung Agung itu?
Kita tiada berguna, kita telah rusak dan kotor karena dosa. Namun oleh kerelaan dan pengorbanan Sang Pemulung Agung itu mencari dan memulung kita, maka hidup kita jadi berarti.
Terima kasih Pemulung.
Salam sehat.
Jlitheng

