“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa” (Luk 18:10a).
Kita memikirkan persembahan yang terbaik untuk dihaturkan kepada Allah Bapa kita. Sebagai anak-anak Allah tentu kita ingin menyenangkan hati Sang Bapa. Sebagai anak, kita bisa saja tampak rajin berdoa, melakukan karya amal, dan berbuat baik kepada semua orang. Namun, kadang roh jahat dapat bersembunyi di balik pekerjaan baik kita. Dosa kesombongan dapat menghantui di balik seluruh karya pelayanan kita.
Persembahan yang berkenan bagi Allah adalah hati yang tulus menyembah.
Seorang pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh, memohon belas kasih dan ampun dari Allah, ‘memukul dada’ yang menggambarkan, bahwa dia telah menegur jiwanya sendiri agar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia menyadari dirinya sebagai orang berdosa, dan yang diinginkan dari Tuhan hanyalah belas kasihan.
Sebaliknya, orang Farisi itu dengan keangkuhannya menunjukkan prestasi hanya demi validitas diri. Sesungguhnya, bukan prestasi yang dicari Allah, melainkan domba yang hilang dari kawanannya. Kiranya kita semua belajar dari kerendahan hati pemungut cukai itu, yang mempersembahkan kelemahannya kepada Allah untuk menunjukkan betapa maha rahim-Nya Allah Bapa kita.
…
Sr. M. Laura, P.Karm
Sabtu, 29 Maret 2025
Hos 6: 1-6 Mzm 51: 3-4.18-21 Luk 18: 9-14
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

