Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Res sub Specie Aeternitatis”
“Melihat Segala Sesuatu dari Sudut Pandang Keabadian”
(Baruch de Spinoza)
Mari Kita Gunakan Akal Sehat
Sebuah Surat Terbuka dari Patris Alegro
“Jangan Bawa Akal Sehat ke Kantor Polisi”
(Manifesto Singkat untuk Mereka yang terlalu Cepat Melapor)
Tulisan refleksi ini, saya angkat bertolak dari hasil permenungan saya atas sebuah pernyataan tertulis lewat media massa oleh Patris Alegro, sebagai tanggapan beliau atas sikap kelompok Kristen (tertentu), yang mau melaporkan Yusuf Kalla ke Polisi soal ucapannya, bahwa orang Islam dan Kristen memiliki ajaran yang sama untuk bersikap berani membunuh demi mati sahid, jika ingin membela suatu kebenaran.
Penyakit baru di ruang publik kita, itu bukan kebodohan, ini lebih halus: ketidakmampuan membedakan antara kesalahan berpikir dan kejahatan hukum.
Setiap kali ada pernyataan yang terasa mengganggu, refleks pertama, bukan klarifikasi, melainkan laporan polisi.
Seolah-olah aparat penegak hukum adalah pengganti logika yang hilang.
Mari kita jujur,
- tidak semua pernyataan yang keliru adalah penistaan;
- tidak semua generalisasi adalah penghinaan;
- dan tidak semua keridaktepatan harus berakhir di meja penyidik.
Jika semua kekeliruan analisis dijadikan perkara pidana, maka setengah ruang publik kita sudah sepi karena sisanya sibuk saling melaporkan.
Ada pernyataan yang secara teologis kurang presisi, secara akademik bisa dikritik, secara publik perlu diluruskan.
Apakah itu sebuah kejahatan? Tidak! Itu undangan untuk kita berpikir, bukan alasan untuk memenjarakan!
Masalahnya kita terlalu cepat tersinggung dan terlalu lambat memahami.
Kita lupa satu hal mendasar:
“Iman yang kokoh tidak butuh perlindungan pidana setiap saat.”
Melaporkan dalam kasus ini, bukan tanda keberanian. Sering kali justru tanda kelelahan berpikir.
Ironi, kita ingin membela iman, tapi menggunakan cara yang justru mereduksi iman jadi perkara administratif.
Seolah-olah kebenaran butuh stempel negara untuk tetap jadi kebebaran.
Tidak!
Kebenaran tidak tumbuh dari ruang interogasi. Ia tumbuh dalam dialog, dalam pikiran, dalam keberanian menjelaskan.
Jadi, sebelum tergoda untuk melaporkan, tanyakan satu hal sederhana!
“Apakah itu benar-benar kejahatan atau hanya kesempatan bagi saya untuk berpikir lebih dalam?”
Refleksi
Semoga setelah mencerna dengan saksama, amanat dan esensi dasar dari argumen Patris Alegro, Anda pun boleh tercerahkan!
- Sungguh, bahasa kebenaran itu ternyata sangat simpel dan sederhana. Mengapa? Bukankah karena kebenaran itu tidak menginginkan aksesoris dan tanpa lipstik? Demikian filsuf Seneca.
- Sedangkan filsuf Baruch de Spinoza (1632-1677), mengajak kita untuk berpandangan ke arah keabadian.
- Karena cinta intelektual kepada Allah mengantarkan Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang keabadian. Karena itu, dalam melihat dan menilai aneka peristiwa kehidupan sehari-hari, gunakan kacamata Ilahi, bukan kacamata manusiawi!
Kediri, 15 April 2026

