“Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat 6: 27).
Sabda Yesus menegur hati kita yang sering kali mudah merasa cemas. Teradang kita ragu, apakah mampu menghadapi situasi sulit yang sedang dan akan kita hadapi.
Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk percaya kepada penyelenggaraan Ilahi, di mana manusia diajak untuk bekerja sama dengan rahmat Allah. Hal ini bukan berarti tanpa usaha dari pihak kita, melainkan ada usaha yang dilandasi iman, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8: 28).
Hidup dalam iman berarti kita membiarkan Tuhan menyatakan rencana-Nya untuk kita jalani, karena rencana-Nya adalah yang terbaik bagi kita, sekalipun menuntut kelepasan dan penyerahan diri dari pihak kita. Dengan demikian, akan tumbuh kebebasan batin dalam diri kita untuk menyadari, bahwa kekuatan kita sepenuhnya ditopang oleh Tuhan, bukan oleh kecemasan. Damai sejati itu bukan berasal dari kepastian akan yang akan terjadi, melainkan dari keyakinan, bahwa Tuhan selalu menyertai kita.
Marilah kita memberi ruang dalam hati ini untuk membiarkan Tuhan menyatakan penyelenggaraan Ilahi-Nya dalam hidup kita.
Sr. M. Marleine, P. Karm
Sabtu, 20 Juni 2026
2 Taw 24: 17-25 Mzm 89: 4-5.29-34; Mat 6: 24-34
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

