Seseorang baru dapat memberi atau berbagi, kalau ia memiliki sesuatu. Ia tidak mungkin memberikan sepiring nasi atau selembar uang dua puluh ribu kepada seorang sesamanya, kalau ia tidak punya nasi atau uang. Demi menunjang semangat Kristen dalam berbagi rahmat Allah, para pengikut Kristus harus memiliki banyak rahmat Allah.
Rahmat itu tidak akan habis, karena sumbernya dari Tuhan Allah. Untuk menjamin kekayaan rahmat Tuhan senantiasa hadir di dalam diri seseorang, caranya ialah ia harus memelihara dirinya di dalam rahmat kasih Allah. Ironisnya ialah, banyak di antara kita, karena demi semangat pelayanan dan untuk suatu kepentingan yang tidak tulus, mereka memilih memberi perhatian atau memelihara iman orang lain.
Dengan kata lain, ada suatu kecenderungan kita untuk mengurusi hidup rohani orang lain. Kita mengikuti mereka terus-menerus dalam bagaimana mengusahakan hidup yang saleh, hidup penuh kasih, dan hidup dalam persekutuan. Biasanya orang-orang yang menganggap dirinya sudah dewasa dan sudah sedikit maju dalam pengetahuan iman melakukan hal ini. Akibatnya mereka tidak mempunyai kesempatan dan kemauan untuk memelihara diri sendiri terkait dengan hidup di dalam kasih Allah. Mereka yang dalam golongan ini menganut gaya aktivisme.
Pemeliharaan diri di dalam kasih Allah berangkat dari prinsip, bahwa Tuhan Allah berkuasa menjaga kita supaya tidak tersandung dan tidak dikuasai sepenuhnya oleh kuasa kejahatan. Dalam Surat Rasul Yudas menegaskan supaya setiap orang beriman mendasarkan dirinya di atas iman yang suci dan senantiasa memelihara diri di dalam kasih Allah. Dengan mendapatkan kebijaksanaan Tuhan, kita akan dikaruniai rahmat kegembiraan untuk menantikan kemuliaan-Nya yang akan dinyatakan secara penuh.
Selanjutnya kita yang memelihara rahmat yang sudah dicurahkan kepada kita. Cara yang paling mendasar ialah kebutuhan akan kekuatan rahmat Tuhan supaya mengisi diri ini, bagai jiwa yang haus akan Tuhan dan rindu untuk dipuaskan oleh Tuhan. Jika sikap kita pasif menunggu, bisa saja kesiapan kita akan datangnya rahmat itu sangat minim. Ketika ada kebutuhan dan kemendesakan, kita akan sangat bergembira dan siap untuk dicurahkan rahmat dari Tuhan. Berharap dan meminta dengan kesukaan yang tinggi itu harus kita lakukan.
Kita dapat memelihara diri ini dalam kasih Allah melalui semakin banyak perbuatan kasih. Setiap perbuatan kasih yang kita lakukan harus tetap bersumber pada nama dan kuasa Yesus Kristus yang menghadirkan Allah yang Maha Tinggi. Tanpa bersumber pada kuasa Tuhan, setiap perbuatan kasih kita bakal kehilangan legitimasi dan pengaruh rohaninya bagi orang lain.
“Ya, Allah yang Maha Kuasa, semoga kami tekun memelihara diri kami di dalam kasih-Mu dan senantiasa berbagi kasih itu kepada orang-orang di sekitar kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

