“Panjang akal itu cerdik. Pandai mencari solusi. Jika digunakan untuk mengakali pelanggan itu suloyo.” -Mas Redjo
Mendengar cerita dari sahabat GP di TK, saya hanya tersenyum. Saya tidak berkomentar, apalagi untuk menanggapinya.
Saya tersenyum, ternyata banyak orang mengepankan bicara dulu, tapi berpikir belakangan. Jadinya konyol, mringis, dan saya terpaksa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, karena prihatin.
Bagaimana saya tidak mringis dan prihatin?! Pengalaman GP itu saya ibaratkan antara “panjang akal vs akal-akalan” dan sekadar demi ‘cuan’ serta hubungan sesaat.
Ceritanya, GP membeli mobil listrik di pameran mobil melalui suatu bank (leasing). Setelah memperoleh nomor rangka, GP mentransfer sejumlah uang untuk DP sesuai yang diminta bank. GP dijanjikan mobil itu datang akhir April dan diberi diskon.
Konyolnya, GP ditelepon bagian KKB dari bank, yang menjelaskan, jika pengiriman mobil itu mundur, dari April ke Mei berarti diskonnya batal!
Bagaimana sistem kerja sama bank itu dengan dealer mobil? Padahal yang menjanjikan itu pihak bank.
Karena peminat mobil itu berjibun, lalu menggeser yang lain? Bonus dibatalkan dan menyalahkan pihak lain?
Berbeda dengan suatu bank yang pegawainya panjang akal, karena menawarkan deposito berjangka plus bonus bunga tambahan: 0,5% dan 1% untuk jangka 3 dan 6 bulan. Aliran uang dari bank lain pindah ke bank tempatnya bekerja.
Perjanjian kerja sama itu teruji di atas materai. Jangan sampai, pagi kedelai sore tempe.
Sungguh, intergritas seseorang itu dapat dilihat antara kata dan perilaku itu harus sinkron: sehati sejiwa!
Mas Redjo

