Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa bedanya, antara menguburkan sebongkah batu dan sebongkah emas?”
(Didaktika Hidup Sadar)
Si Pelit pun Berada di Mana-mana
Sudah tidak dapat diingkari lagi, karena memang nyata, bahwa dalam hidup ini si pelit pun berada di mana-mana. Ia dapat saja sebagai rekan sekerja dan seorganisasi Anda. Bahkan dia sering kali bebas berseliweran di sekitar kediaman Anda. Atau mungkin saja, dia adalah saudara sekandung Anda; dan juga mungkin saja, dia adalah Anda sendiri.
Mari, Cermatilah dengan Saksama Kisah Ini!
Si Pelit
Ada seorang pria yang dikenal sebagai sosok pribadi yang paling ‘Pelit’. Ia selalu saja sibuk dan cemas akan keberadaan hartanya yang melimpah itu.
Suatu hari, ia berniat menukarkan seluruh hartanya dengan sebongkah besar emas. Setelah bertransaksi dan menerima sebongkah emas itu, ia berniat menyembunyikannya di dalam tanah.
Dalam sehari, tidak kurang dari tiga kali ia mengunjungi tempat persembunyian bongkahan emas itu. Maka, lambat laun tetangganya mulai menaruh curiga, mengapa si Pelit itu koq sangat sering berada di kebunnya?
Suatu hari, ketika ia baru kembali dari kebunnya, seorang pencuri yang sudah lama membuntutinya memasuki areal kebun itu dan segera mengambil bongkahan besar emas itu.
Keesokan harinya, si Pelit berkunjung ke kebunnya. Setiba di sana, dengan hati-hati dikaiskannya tanah, tempat persembunyian emas itu. Tapi, alangkah terkejut, pucat, dan meronta ia, setelah tahu, bahwa bongkahan besar emasnya itu telah tiada.
Dia berteriak ke sana ke mari sambil meratapinya. Saat itu, seorang tetangganya bertanya, “Mengapa engkau meratap, Pelit?” Maka, dijawabnya, “Bongkahan besar emas, hartaku yang paling berharga itu, telah sirna dicuri orang.”
“Anda sungguh bodoh, jika meratapi sesuatu yang memang terkubur di dalam tanah. Ambilkan saja sebongkah batu besar dan kuburkan di tempat itu, lalu Anda bayangkan, bahwa batu itu adalah bongkahan emasmu. Bukankah Anda tidak berniat untuk menggunakannya? Karena memang, toh tidak ada bedanya, jika Anda menguburkan sebongkah batu dan sebongkah emas, bukan?”
Aesop
(1500 Cerita Bermakna)
Si Pelit, Oh, Nasibmu
Demikian ending yang paling tragis dan dramatis dalam seluruh proses ziarah hidup si Pelit. “Nasib, oh, sang nasib,” demikian teriakan sinis dari para warga.
“Malang tidak dapat dihindari, dan bulan pun tak dapat diraih,” demikian bunyi sebuah pepatah bangsa kita. Inilah sebuah akhir yang paling tragis. Itulah nasib paling akhir si Pelit.
No Man is an Island
Dalam hidup bermasyarakat kita tidaklah luput dari kesan dan penilaian para warga masyarakat. Siapakah kita, menurut persepsi mereka? Bukankah Aristoteles, sang filsuf pernah menjuluki manusia itu sebagai ‘zoonpoliticon?” makhluk yang selalu bersama? (No man is an island) (manusia bukanlah ibarat sebuah pulau). Artinya, lewat proses kebersamaan itu, maka setiap warga pun akan saling mengenal satu sama lain.
Refleksi
“Di mana hartamu berada, maka di situ pula hatimu akan berada,” demikian didaktika hidup dari Yesus Kristus.
‘Kemelekatan’ akan harta, itulah ciri paling khas di dalam diri dan ‘kedangingan’ manusia.
Dalam konteks ‘kemelekatan’ ini, kita ‘ibarat seseorang yang sangat setia menggenggam erat sekeping uang koin dan tidak rela untuk dilepaskan lagi!
Kediri, 10 Oktober 2025

