Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kesabaran itu memang pahit rasanya, tapi manis buahnya.”
(Jean Jacques Rousseau)
“Apakah Anda adalah Sosok Penyabar?”
Jika memang demikian, Anda pun kekasih Allah!
(Hikmah Para Sufi dan Pujangga)
A. Mengapa Dunia sangat Merindukan Figur sang Penyabar?
Ya, karena dunia ini sedang sekarat dilanda virus ketidaksabaran!
Tiga Penyakit Dunia
- 1. Selalu Reaktif: Dunia kita ternyata sangat gampang mereaksi: mudah tersinggung, suka balas kecam, balas komen. Tapi si penyabar mengajari dunia untuk: bertahan, janganlah dibalas.
- 2. Serba Instan: Kita memasak mie dalam tiga menit, cinta dalam tiga hari, kaya dalam tiga bulan. Tapi, si penyabar membuktikan bahwa agar masakan benar-benar matang, maka dibutuhkan waktu lebih lama. Sedangkan cinta monyet bisa dalam sedetik pun sudah cukup.
- 3. Suka Bising: Semua pihak meminta agar dirinya didengarkan. Tapi si penyabar hanya diam, tapi reaksinya justru sangat bergema. Bukankah dunia ini rindu akan keheningan, karena itu dia pun butuh pribadi yang santun.
Maka: Dunia pun rindu akan pribadi penyabar, karena di tengah dunia ini banyak orang yang suka mengaum seperti singa. Sedangkan si penyabar memilih menjadi gunung batu yang tidak bergerak, tapi jika digeser, maka peta dunia pun bisa berubah seketika.
Ya, maka sang penyabar itu adalah “counter-culture,” maka,
kehadiran mereka pun senantiasa dirindukan.
Filosofi Terselubung di Balik Sikap si Penyabar
Ada Empat (4) Lapisan yang Jarang Dibongkar Manusia
- a. Filosofi Waktu: Bukankah si penyabar itu adalah si pemilik waktu? Sedangkan orang yang tidak sabar, justru diperbudak oleh sang waktu.
(Inilah prinsip Hukum Bambu China): Lima tahun hanya muncul akar yang terkubur di dalam tanah. Tahun ke-enam, hanya tumbuh tiga meter dalam enam Minggu.
- b. Filosofi Kekuatan: Sabar itu sama dengan tenaga nuklir yang diredam. Sedangkan, marah itu, ibarat bensin yang disiram, dan habis dalam lima menit. Sabar itu adalah uranium yang didiamkan, disimpan, dipadatkan bertahun. Maka, sekali lepas, ia akan jadi bom atom perubahan.
Lihatlah pada figur agung dunia, Nelson Mandela yang selama 27 tahun dipenjarakan, tapi ia tidak berisik. Ia diam, sabar. Tapi, sekali ia keluar kandang, politik ‘apartheid’ pun runtuh berantakan. (Itulah bentuk kesabaran yang matang dari dalam jiwa manusia).
- c. Filosofi Air: Ia Kuat karena Tidak Melawan: “Air itu paling lembut, tapi ia bisa menghancurkan batu padas,” demikian Lao Tzu.
Nah, Bagaimana Caranya? Ya, dengan kesabarannya! Tetes demi tetes dalam 100 tahun, maka batu wadas pun akan bolong.
- d. Filosofi Kosong: Penyabar Memiliki Ruangan untuk Tuhan: Pemarah itu penuh: penuh ego, penuh dendam, penuh keakuan. Sedangkan penyabar itu: mengosongkan diri. Ruang kosong itu akan diisi oleh Tuhan. Maka, “Sang penyabar itu adalah kekasih Tuhan!”
Mengapa demikian? Karena bukankah hanya di dalam hati si penyabar, Tuhan pun rela membangun rumah untuk menakhtakan kuasa agung-Nya?
Dan lihatlah, kepada Ibu kita, sebagai contoh yang paling nyata: sembilan bulan, ia mengandung kita, dua tahun, ia menyusui kita, dua puluh tahun, ia menahan tangis agar anak-anaknya tidak melihat. Sungguh, tidak ada yang lebih sabar, selain daripada ibu kita.
Makanya, “Surga itu, sungguh berada di bawah telapak kaki ibu kita!”
Refleksi
- “Dunia ini telah dipenuhi oleh orang pintar, tapi tidak banyak yang orang sabar.”
- “Dunia tidak butuh lebih banyak ‘api,’ tetapi dunia lebih butuh banyak ‘sumbu’ Dan ‘sumbu’ itu adalah ‘sabar.’ Karena bukankah dialah si lentera peradaban hidup?
Kediri, 29 April 2026

