“Tidak harus mencela, nyinyir, atau menghakimi, jika kita tidak mampu memperbaiki keadaan. Lebih bijak itu diam dan berdoa ikhlas. Biarlah Tuhan yang mengubah hatinya.” -Mas Redjo
Maaf, jika saya berdiam diri, tidak merespon, menanggapi, dan seakan tidak peduli dengan sikon di sekitar kita yang carut marut ini.
Saya sadar diri, bukan siapa-siapa. Melainkan seorang bersahaja, dan biasa-biasa saja.
Saya berdiam diri itu tidak berarti cuwek, apatis, menulikan telinga, membutakan hati, dan bersikap masa bodoh!
Saya sungguh bersyukur dan sadar sesadarnya dengan kapabilitas diri ini.
Sekali lagi, bukan karena saya tidak peduli dengan sikon di sekitar yang carut marut ini. Melainkan karena sangat peduli, saya mengendalikan diri untuk tidak hanyut terseret ke dalam hiruk pikuk kegaduhan itu.
Baik dan benar, karena kebebasan berekspresi itu harus dihargai. Tapi tidak seharusnya kita menabrak aturan, bahkan hingga hilang adab dengan saling menghujat dan menghakimi satu dengan yang lain.
Selalu “eling lan waspada” itu yang membuat saya menjaga kewarasan berpikir jernih. Kehendak bebas itu harus diarahkan ke hal-hal baik, positif, dan bermanfaat. Karena kita diciptakan Allah: secitra dan segambar dengan-Nya, “Imago Dei” (Kejadian 1: 26-27).
Sebagai pribadi beriman, kewajiban kita sekadar mengingatkan dengan hati, mengasihi, dan doa ikhlas. Karena hanya Allah yang mampu mengubah hati seseorang.
Sumonggo Gusti.
Mas Redjo

