Orang-orang zaman ini lebih gampang menghakimi orang lain daripada mencari kebenaran. Bahkan, terhadap Tuhan sekalipun, masih berprasangka dan bukannya percaya kepada-Nya.
Dalam kisah Nabi Elia yang berhadapan dengan Nabi-nabi Baal, Elia hanya seorang diri. Tapi ia lebih mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya Allah dan Penolong yang setia. Saat itu, Raja Ahab dan semua pengikut Baalnya bersatu, melawan Nabi Elia. Mereka berdebat tentang siapa yang memiliki Allah yang benar. Mereka berusaha membuktikannya dengan meletakkan persembahan di atas Altar yang sudah disiapkan. Seekor lembu dipotong dan diolah, lalu kurban persembahan itu tidak boleh dipasang api, tapi dengan memanggil ilah mereka untuk membakar kurban persembahan itu. Ketika Raja Ahab dan pengikutnya melakukan hal itu, tidak ada tanda-tanda kurban persembahan itu terbakar, karena tidak ada api yang muncul.
Tiba giliran Elia. Ia mulai berdoa… lalu turunlah api Tuhan menyambar kurban bakaran, kayu bakar, batu, tanah, dan air. Semua itu dilahap oleh api Tuhan. Setelah melihat kejadian itu, seluruh rakyat bersujud dan berseru, “Tuhan, Dialah Allah.”
Peristiwa itu jadi tanda paling nyata akan kebenaran Tuhan yang telah ditolak oleh bangsa pilihan-Nya sendiri.
Yesus juga melawan hal yang sama. Dalam Khotbah di Bukit Yesus berkata, “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab Para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
Yesus mengetahui, bahwa konsep para murid-Nya dan orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya tentang diri-Nya masih sangat terbatas. Artinya, hanya sebatas seorang Nabi yang akan datang untuk membebaskan mereka dari perbudakan dan penjajahan. Padahal, semua yang telah disampaikan di dalam hukum Taurat dan Kitab Para Nabi itu terpenuhi di dalam diri-Nya. Tapi mereka tidak memahami itu, karena sangat dipengaruhi oleh kebenaran yang semu.
Sebagai murid-murid Tuhan, kita banyak mendengar pengajaran Tuhan dalam Kitab Suci. Kita diharapkan mengenal dan mengimani-Nya dengan benar dan utuh serta setia kepada-Nya sebagaimana diteladankan oleh Nabi Elia.
“Ya, Tuhan, tuntunlah kami supaya selalu memilih dan mengikuti kehendak-Mu, serta berusaha hidup sesuai dengan hukum-hukum-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

