Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Homines Pretisiores sunt Auro”
“Manusia lebih Berharga daripada Emas”
(Adagium Latin)
Nilai Martabat Manusia
Martabat manusia (human dignity) dalam bidang etika, teologi, dan kemanusiaan universal adalah suatu kebenaran mutlak. Bahwa makhluk manusia itu adalah subjek yang paling bernilai intrinsik, sedangkan barang adalah objek yang bernilai instrumental.
Nilai Manusia
Ketika saya jadi karyawan di sebuah toko, seorang Nyonya kaya membeli sebuah pot bunga yang sangat mahal.
Ketika saya membawa ke luar pot itu, Majikan itu mengingatkan saya agar berhati-hati dengan barang mewah itu. Saat saya memasuki halaman rumah Nyonya kaya itu, saya mendengar seperti ada bunyi sesuatu yang remuk di dalam bungkusan itu. Saya pun pucat ketakutan.
Saat pintu rumah dibuka, seorang Nyonya lansia pun keluar. Saya sangat bingung, apa yang harus saya katakan. Tapi tiba-tiba anjing herder yang sangat besar datang dan lompat tepat di atas kepala saya dan membentur pot bunga mahal itu sehingga terjatuh ke tanah.
Nyonya itu segera mendekatiku, jika saya disakiti anjing itu. “Demi Tuhan, anakku, saya harap engkau tidak disakiti.”
“Mengenai pot bunga mahal itu, tidak ada yang perlu dicemaskan, tapi bagaimana dengan dirimu? Ketahuilah anjing itu masih muda dan mungkin ia ingin bermain denganmu. Apakah engkau baik-baik saja?”
Kemudian ia memberi kepadaku uang jasa yang cukup besar sebagai imbalan saya mengantarkan pot bunga mahal itu.
Di sepanjang hidupku, saya tidak pernah dapat melupakan betapa mulianya hati Nyonya lansia itu.
(Jim Johnson)
1500 Cerita Bermakna
Tinjauan tentang Luhurnya Martabat Manusia
- 1. Dari Sudut Pandang Teologis Imago Dei (Citra Allah): bahwa makhluk manusia diciptakan ‘segambar dan serupa’ dengan Allah (Kejadian 1: 27).
Barang mahal dan mewah itu diciptakan oleh tangan manusia. Sedangkan makhluk manusia itu, langsung diciptakan oleh Allah.
- 2. Dari Sudut Pandang Filosofis: Filsuf Imanuel Kant membedakan antara ‘harga”’ (price) dengan ‘martabat’ (dignity).
Bahwa barang-batang mewah memiliki harga dan bisa diganti dan ditukar. Jika vas bunga mewah itu pecah, Anda bisa membelinya lagi. Tapi, jika seorang manusia mati, ia tidak bisa diganti atau dibeli lagi.
- 3. Dari Sudut Pandang Kemanusiaan: Ketaktergantian (Irreplaceability).
Jika anjing herder Anda hilang, Anda sedih, tapi Anda bisa membeli lagi. Tapi jika putra Anda meninggal, Anda tidak bisa membelinya lagi.
Refleksi
Jadi, sungguh betapa luhur dan mulianya martabat manusia itu.
Ia sungguh tudak tergantikan dan tak dapat diperjualbelikan seperti barang-barang.
“Non Res, sed Persona Valet” “Bukan Benda, melainkan Pribadi yang Bernilai”
Kediri, 25 Mei 2026

